Logo Bloomberg Technoz

Rupiah semakin tergerus hingga sempat mencapai Rp17.420/US$ yang menjadi titik terlemahnya secara intraday.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks dolar AS (DXY) makin perkasa dengan level tertinggi mencapai 98,036 pada perdagangan hari ini, sejalan dengan ketidakpastian yang makin meningkat di pasar menyusul pernyataan terbaru Presiden AS Donald Trump terhadap eskalasi konflik Timur Tengah.

Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, Presiden AS Donald Trump menolak proposal perdamaian terbaru untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama 10 minggu.

“Saya baru saja membaca tanggapan dari apa yang disebut sebagai ‘perwakilan’ Iran,” tulis Trump dalam unggahan media sosial pribadinya, sambil menyebut sebagai “SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA.”

Imbas serangkaian insiden yang terus mengancam, harga minyak mentah jenis Brent melesat hingga 4,28% menuju level US$105,6 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melejit 5,19% menembus US$100,05 per barel, berdasarkan data Bloomberg per siang hari ini.

Saat rupiah melemah, beban utang luar negeri masing–masing emiten bakal meningkat. Apalagi bagi emiten yang mengumpulkan pendapatan dalam rupiah, akan mengalami currency missmatch.

Pada saatnya, currency missmatch itu akan menggerus laba. Ketika laba emiten jatuh, apalagi sampai merugi, maka investor sulit berharap akan datangnya dividen.

(fad/aji)

No more pages