Logo Bloomberg Technoz

Situasi keamanan di kawasan juga kian memanas. Serangan drone pada hari Minggu sempat membakar sebuah kapal kargo di lepas pantai Qatar, menandai serangan terbaru terhadap pelayaran sejak gencatan senjata dimulai awal April. Uni Emirat Arab dan Kuwait juga melaporkan telah mencegat drone musuh di wilayah udara mereka.

CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, memperingatkan bahwa pasar baru akan kembali normal pada tahun 2027 jika gangguan pelayaran di Hormuz berlanjut lebih dari beberapa minggu ke depan. Saat ini, Aramco telah berupaya mengalihkan sebagian aliran minyak melalui pelabuhan Yanbu di pesisir barat guna menutupi hilangnya pasokan.

Wall Street kini semakin yakin bahwa gangguan di Selat Hormuz akan bertahan hingga paruh kedua tahun ini. Survei dari Goldman Sachs Group Inc menunjukkan mayoritas responden memprediksi kemacetan di jalur sempit tersebut akan melampaui akhir Juni.

Meski demikian, masih ada sebagian kecil pasokan yang berhasil melewati selat tersebut. Uni Emirat Arab dan Arab Saudi dilaporkan berhasil mengirim beberapa kapal tanker keluar dari kawasan itu, walaupun total arus pengiriman masih jauh di bawah level sebelum perang. Qatar juga berhasil mengekspor satu pengiriman gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG), yang menjadi pengiriman pertama sejak konflik dimulai.

Dalam wawancara dengan program 60 Minutes milik CBS pada Minggu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memperingatkan bahwa perang “belum berakhir.” Netanyahu mengatakan masih diperlukan langkah lebih lanjut untuk menghancurkan kemampuan nuklir Iran serta menghilangkan cadangan uranium yang diperkaya tinggi milik negara tersebut.

Pernyataan Trump memicu lonjakan volume perdagangan pada awal pekan. Lebih dari 4.000 kontrak Brent untuk pengiriman Juli berpindah tangan dalam lima menit pertama perdagangan. Angka itu jauh lebih tinggi dibanding rata-rata kurang dari 1.000 kontrak pada awal sesi perdagangan dalam beberapa hari terakhir.

Harga:

  • Brent untuk pengiriman Juli naik 2,6% menjadi US$103,95 per barel pada pukul 06.35 waktu Singapura, setelah ditutup menguat 1,2% pada Jumat.
  • WTI untuk pengiriman Juni naik 2,6% menjadi US$97,93 per barel.

(bbn)

No more pages