Logo Bloomberg Technoz

Iran membantah laporan tersebut, menurut kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim.

Di tengah serangkaian insiden yang terus mengancam gencatan senjata yang goyah, belum jelas apakah pertukaran proposal perdamaian terbaru dari kedua pihak dapat membuka jalan bagi dibukanya kembali Selat Hormuz.

Dalam proposal terbarunya, Iran akan mengencerkan sebagian uranium yang diperkaya tingkat tingginya dan mengirim sisanya ke negara ketiga, demikian laporan surat kabar tersebut dengan mengutip sumber yang mengetahui tanggapan Iran.

Namun, Iran juga meminta jaminan bahwa uranium yang dipindahkan akan dikembalikan jika perundingan gagal, serta menolak pembongkaran fasilitas nuklirnya.

Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, mengatakan laporan Journal mengenai proposal penanganan material nuklir tersebut “tidak benar.”

Pernyataan itu menyoroti keinginan Iran untuk segera mengakhiri perang, pembebasan aset-asetnya yang dibekukan, pencabutan sanksi AS terhadap penjualan minyak, penghentian blokade AS di Teluk Oman, dan pada akhirnya pengelolaan selat tersebut oleh Iran.

Media pemerintah IRIB News menambahkan bahwa Teheran menolak rencana Trump karena dianggap setara dengan menyerah, serta menegaskan bahwa AS juga harus membayar ganti rugi perang.

Trump sebelumnya mengusulkan agar Iran mengizinkan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz dan Washington menghentikan blokadenya terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dalam bulan depan, dengan pembicaraan nuklir dilakukan setelahnya.

“Penolakan Trump terhadap rencana perdamaian terbaru Iran membuat pekan ini dimulai dalam mode ‘risk-off’, membalikkan sebagian pergerakan harga yang kita lihat minggu lalu,” kata Jason Wong, seorang analis strategi di Bank of New Zealand. “Ini dapat berlanjut pada perdagangan awal.”

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga memperingatkan bahwa perang “belum berakhir.”

Dalam wawancara yang ditayangkan Minggu di program 60 Minutes milik CBS, ia mengatakan masih ada pekerjaan lebih lanjut yang diperlukan untuk membongkar kemampuan nuklir Iran dan menghilangkan cadangan uranium yang diperkaya tingkat tingginya.

Meski gencatan senjata telah berlaku sejak 8 April, serangan drone pada Minggu sempat membakar sebuah kapal kargo di lepas pantai Qatar di Teluk Persia, menjadi serangan terbaru terhadap pelayaran di kawasan tersebut.

Uni Emirat Arab dan Kuwait juga mengatakan pada Minggu bahwa mereka telah mencegat drone-drone bermusuhan.

Sebelumnya pada Minggu, Trump mengatakan Iran telah “mempermainkan” AS dan negara-negara lain.

“Selama 47 tahun Iran telah terus ‘mengulur-ulur’ kita, membuat kita menunggu, membunuh rakyat kita dengan bom pinggir jalan mereka, menghancurkan aksi protes, dan baru-baru ini membantai 42.000 demonstran tak bersenjata yang tidak bersalah, sambil menertawakan negara kita yang kini kembali HEBAT,” tulisnya di media sosial. “Mereka tidak akan tertawa lagi!”

Trump, yang minggu ini melakukan perjalanan ke China meskipun konflik masih berlangsung, dan para penasihatnya beberapa kali mengisyaratkan bahwa perang telah berakhir, meskipun mereka juga mengancam akan meningkatkan serangan jika Teheran tidak menyetujui kesepakatan damai.

Presiden AS itu berulang kali mengatakan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, dan bahkan baru minggu lalu mengatakan negara tersebut telah setuju untuk meninggalkan ambisi nuklirnya.

Trump tidak menjelaskan dalam unggahan media sosialnya konsekuensi apa yang akan terjadi akibat ketidakpuasannya terhadap tanggapan Iran.

Dalam beberapa minggu terakhir, Trump tampak ingin segera menutup konflik tersebut karena menghadapi tekanan politik yang meningkat untuk menurunkan harga bensin di seluruh AS menjelang pemilu sela bulan November, ketika Partai Republik berharap tetap menguasai Kongres.

Konflik tersebut telah menewaskan ribuan orang di seluruh Timur Tengah dan mengguncang pasar minyak dan gas, dengan lonjakan harga bahan bakar yang semakin menekan pemerintah dan konsumen di seluruh dunia.

Saudi Aramco, perusahaan minyak terbesar di dunia, pada Minggu memperingatkan bahwa pasar akan membutuhkan beberapa bulan untuk kembali normal bahkan jika Selat Hormuz segera dibuka kembali.

(bbn)

No more pages