Hanya yuan offshore, yen Jepang dan dolar Singapura yang menguat, itu pun terbatas. Namun, jika ditarik sejak awal pekan, mata uang Asia menguat lantaran sempat ada harapan perdamaian antara AS dan Iran melalui kesepakatan yang sedang direncanakan.
Namun hari ini berbalik arah karena serangan baru yang terjadi di perairan Hormuz dan membuat harga minyak kembali naik.
Sepanjang pekan ini, hanya rupiah yang melemah jika dibandingkan mata uang kawasan. Kondisi ini terjadi lantaran rupiah masih terbebani sentimen domestik, seperti kondisi fiskal, capaian indeks manufaktur yang berada di zona kontraksi, dan yang terbaru posisi cadangan devisa yang kembali tergerus.
Selain itu, data ekspor yang kurang menggembirakan dan tercatat turun membuat posisi cadangan devisa jadi semakin rentan. Sebab, cadangan devisa Ri saat ini masih bergantung pada aliran modal asing dan penerbitan utang eksternal.
Selama investor global masih melihat Indonesia menarik dari sisi yield dan stabilitas makro, aliran dana asing dapat menopang devisa.
Akan tetapi model ketahanan seperti ini sangat sensitif. Hal ini terlihat dari kondisi aliran dana asing yang cenderung keluar dari pasar Indonesia.
Data aliran modal asing yang dihimpun Bloomberg mencatat, investor melepas kepemilikan di pasar obligasi senilai US$11,5 juta per 6 Mei. Begitu juga di pasar saham investor mencatat penjualan bersih saham sebesar US$4,41 juta pada 7 Mei.
(dsp/aji)




























