Letusan tersebut disertai suara dentuman dari intensitas lemah hingga kuat dan terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 34 mm serta durasi sekitar 967,56 detik.
Kolom abu terpantau berwarna putih, kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal dan menjulang sekitar 10.000 meter di atas puncak gunung. Sebaran abu vulkanik bergerak ke arah utara sehingga berpotensi memengaruhi kawasan permukiman hingga Kota Tobelo akibat hujan abu.
Sementara itu, aktivitas erupsi secara visual dan kegempaan teramati meningkat kembali sejak 29 Maret 2026, rata-rata terjadi 95 kejadian erupsi.
Aktivitas vulkanik Gunung Dukono yang berada di wilayah Kecamatan Galela dan Tobelo kembali meningkat sejak 30 Maret 2026 dengan erupsi magmatik eksplosif yang tercatat mencapai 199 kali.
Adapun tinggi kolom erupsi berkisar antara 50 hingga 400 meter dari puncak gunung.
Sejak 11 Desember 2024, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi telah mengimbau masyarakat, wisatawan, serta pendaki untuk tidak beraktivitas dalam radius empat kilometer dari Kawah Malupang Warirang yang menjadi pusat aktivitas vulkanik.
Selain risiko lontaran material pijar dan hujan abu, warga juga diminta mewaspadai potensi banjir lahar saat musim hujan. Ancaman aliran lahar diperkirakan dapat mengalir melalui Sungai Mamuya di sektor utara serta Sungai Mede dan Sungai Tauni di sektor timur laut yang berhulu di area puncak gunung.
(red)































