Aspek Keamanan
Moshe juga menilai perbedaan densitas energi CNG dan LPG bakal mengakibatkan perbedaan karakteristik pembakaran, sehingga kompor LPG tidak bisa langsung digunakan untuk CNG.
“Jadi enggak bisa pakai kompor yang biasa terus tinggal colok pakai CNG terus berharap hasilnya sama, enggak. Kompornya harus khusus. Jadi mau enggak mau rumah tangga makanya ya harus ganti kompor,” ujar Moshe.
Dari aspek penyimpanan, Moshe memandang harus terdapat area khusus yang hanya diperuntukkan sebagai penyimpanan tabung CNG, tidak seperti LPG yang dapat ditempatkan di sekitar kompor.
Alasannya, tabung CNG 3 kg bakal lebih besar dari ukuran tabung LPG normal dan tempat penyimpanan khusus tersebut diperlukan agar aspek keamanan lebih terjaga.
Tekanan CNG yang jauh lebih tinggi dari LPG juga disoroti oleh Moshe. Dia menilai insiden kebocoran CNG dapat memberikan dampak yang lebih fatal daripada kebocoran LPG.
“Bayangkan ini 2,5 kali lipat lebih besar dengan energi yang sama ya, jadi tabungnya memang harus besar. Nah kebayang kalau di di rumah-rumah masing-masing,” kata Moshe.
“Saya sangat tidak menganjurkan ya. Itulah kenapa waktu kita konversi dari minyak tanah ke gas itu yang dipilih adalah LPG. Ada alasannya, satu alasan utamanya yang paling kritikal adalah masalah keamanan,” tegas dia.
Menyitir situs resmi PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) atau PGN, CNG merupakan bentuk gas alam yang dikompresi pada tekanan tinggi, biasanya di atas 200 bar, untuk memudahkan penyimpanannya dan penyalurannya melalui transportasi.
Gas alam itu sendiri adalah campuran hidrokarbon yang terdiri dari metana, etana, propana, dan butana. Namun, CNG lebih umum terdiri dari metana dengan kadar lebih dari 95%.
Dalam hal ini, CNG berbeda dengan LPG dan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG).
LPG adalah campuran propana dan butana yang disimpan dalam wujud cair pada tekanan dan suhu tertentu.
Sementara itu, LNG adalah gas alam yang didinginkan hingga suhu sangat rendah sehingga berubah menjadi bentuk cair dan dapat diangkut dalam kondisi tersebut.
Perbedaan utama antara CNG, LPG, dan LNG terletak pada keadaan fisiknya dan tekanan penyimpanannya.
CNG disimpan dalam bentuk gas pada tekanan tinggi, sementara LPG dalam bentuk cair pada tekanan dan suhu moderat. Di sisi lain, LNG diangkut dalam bentuk cair pada suhu sangat rendah.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia baru-baru ini menyatakan niat mengembangkan gas alam terkompresi atau CNG, termasuk dengan format tabung 3 kilogram seperti Gas Melon.
Dia menyebutkan penggunaan CNG memiliki biaya yang lebih murah sekitar 30% hingga 40%, tetapi tidak menjelaskan pembandingnya.
Menurut Bahlil, langkah ini dilakukan untuk menggantikan impor LPG yang menembus 7 juta ton per tahun.
“CNG ini adalah sama juga gas, tetapi dia bukan LPG, dan sekarang sudah dipakai untuk hotel, restoran, dan beberapa [dapur] MBG-MBG. Namun, untuk yang 3 kilogramnya ini baru mau dibuat dan ini cost lebih murah 30%—40%,” kata Bahlil dalam pidatonya di acara Himpunan Alumni IPB, akhir pekan lalu.
(azr/wdh)






























