Menelaah Booming Biofuel di Tengah Krisis Energi akibat Perang
News
05 May 2026 15:50

Anuradha Raghu dan Elizabeth Elkin - Bloomberg News
Bloomberg, Permintaan biofuel terus meningkat di banyak belahan dunia. Pemerintah, khususnya di negara-negara dengan sektor pertanian yang besar, memandang bahan bakar berbasis tanaman sebagai cara untuk mendukung pertanian domestik, mengurangi emisi bahan bakar fosil dari sektor transportasi, dan membantu mengatasi perubahan iklim.
Krisis energi akibat penutupan Selat Hormuz telah menciptakan insentif tambahan untuk meningkatkan produksi: keamanan energi. Biofuel tidak dapat sepenuhnya menggantikan minyak bumi, tetapi dapat dicampur ke dalam bensin dan solar, sehingga memungkinkan negara-negara mengoptimalkan pasokan bahan bakar yang ada.
Sejak perang Iran pecah, negara-negara penghasil biofuel utama seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Brasil telah bergerak mengizinkan lebih banyak biofuel dicampur ke dalam bahan bakar transportasi guna mengurangi impor dan memastikan keamanan pasokan.
Namun, banyak aktivis lingkungan menentang gagasan bahwa biofuel merupakan sumber energi alternatif yang berkelanjutan. Dan seiring semakin banyaknya lahan pertanian yang digunakan untuk memproduksinya, semakin sedikit lahan yang tersedia untuk memproduksi pangan, sehingga meningkatkan risiko kelangkaan pangan global dan kelaparan di negara-negara termiskin.
































