Vietnam pun mulai merasakan tekanan serupa. Inflasi April naik menjadi 5,46% dari 4,65% pada bulan sebelumnya, juga melampaui proyeksi pasar sebesar 4,8%. Inflasi ini merupakan angka yang tertinggi sejak enam tahun lalu (Januari 2020).
Kenaikan harga bahan bakar dan logistik mulai membebani harga kebutuhan pokok dan biaya produksi industri. Alhasil, defisit perdagangan pun melebar ke titik terdalam hampir tiga dekade (April 1997) menjadi US$3,28 miliar pada April.
Vietnam mencatatkan total defisit perdagangan selama empat bulan pertama tahun ini mencapai US$7,11 miliar, berbanding terbalik dengan kondisi tahun lalu pada periode yang sama dengan surplus US$4,3 miliar.
Di tengah tekanan regional tersebut, inflasi Indonesia masih tercatat sedikit berbeda. Inflasi April justru melandai ke 2,42% secara tahunan dari 3,48% pada Maret. Sementara itu, inflasi inti relatif stabil dengan kenaikan 2,44% dibandingkan 2,52% pada bulan sebelumnya.
Kondisi ini memberi kesan bahwa tekanan harga domestik masih terkendali. Padahal, perlambatan tersebut lebih banyak dipengaruhi faktor sementara berupa efek basis, terutama karena tahun lalu pemerintah sempat memangkas tarif listrik.
Selain itu, inflasi Indonesia relatif terkendali lantaran pemerintah menahan transmisi harga minyak mentah melalui skema bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan sempat menahan harga Pertamax, bbm non-subsidi.
Menurut Tamara Mast Henderson, Ekonom Bloomberg Economics perlambatan inflasi April Indonesia tidak akan bertahan lama. "Ke depan, harga minyak mentah yang bertahan di atas US$100 per barel akan memberikan tekanan kenaikan yang signifikan terhadap harga konsumen," kata Tamara, dalam catatannya.
Langkah Bank Sentral Kawasan
Situasi ini menempatkan bank sentral di kawasan pada posisi sulit, antara menjaga stabilitas harga tanpa terlalu agresif menekan pertumbuhan ekonomi yang masih rapuh pascaperlambatan global.
Sebelum konflik Timur Tengah, bank sentral Filipina sebenarnya sedang mengakhiri siklus pelonggaran kebijakan. Namun, dengan harga energi yang melambung dan telah menjalar ke inflasi, The Bangko Sentral ng Pilipinas pun telah mempercepat langkah pengetatan dengan menaikkan suku bunga 25 bps pada April menjadi 4,5%.
Sementara bank sentral Vietnam, sebelumnya memprioritaskan likuiditas sistem dan stabilitas suku bunga antarbank melalui operasi pasar terbuka. Selama empat bulan pertama 2026, sistem perbankan mencatat kenaikan luas pada suku bunga deposito maupun kredit.
Namun, di tengah keterbatasan kebijakan hawkish, otoritas moneter Vietnam diperkirakan akan mengambil langkah pengetatan likuiditas di pasar.
"Respons kebijakan jangka pendek terhadap tekanan harga dan nilai tukar kemungkinan berupa pengetatan likuiditas melalui pengurangan injeksi operasi pasar terbuka, dan kenaikan suku bunga antarbank," sebut ekonom Oxford Economics, Adam Ahmad Samdin, dalam catatannya.
Sejalan dengan Vietnam dan berbeda dengan Filipina yang mulai memberi sinyal pengetatan lanjutan, ruang kebijakan Bank Indonesia masih relatif lebih longgar karena inflasi inti domestik belum melonjak signifikan. Alhasil suku bunga acuan BI Rate masih bisa ditahan 4,75% pada April lalu.
Namun, sepertinya ruang kebijakan tersebut bisa cepat menyempit jika harga minyak bertahan di atas US$100 per barel lebih lama dari perkiraan dan membuat pergerakan rupiah semakin volatil.
Di tengah kondisi itu, tekanan bagi Bank Indonesia untuk menaikkan BI Rate pada kuartal ini juga semakin besar, terutama setelah berbagai bank sentral utama seperti Bank of Japan, European Central Bank, dan Bank of England memberikan sinyal akan mulai menaikkan suku bunga mulai Juni.
Sebagai catatan, India baru akan mengumumkan angka inflasi pada 12 Mei mendatang. Inflasi India diperkirakan naik menjadi 4% dari sebelumnya 3,4%. Begitu juga dengan Malaysia akan mengumkan capaian inflasinya pada 10 Mei mendatang, inflasi Malaysia sebelumnya tercatat 1,7%, dengan inflasi inti 1,2% pada Maret.
Sementara, Thailand akan mengumumkan inflasinya hari ini dan diproyeksikan naik menjadi 2,2% secara tahunan dari sebelumnya deflasi sebesar -0,08%.
(dsp/aji)































