Inflasi Filipina Tembus 7,2% Akibat Perang di Timur Tengah
News
05 May 2026 11:30

Ditas B Lopez dan Neil Jerome Morales - Bloomberg News
Bloomberg, Bank sentral Filipina diperkirakan perlu mengambil langkah lebih agresif dalam menaikkan suku bunga guna meredam laju inflasi yang melonjak melampaui perkiraan akibat perang di Timur Tengah.
Berdasarkan data Otoritas Statistik Filipina (PSA), indeks harga konsumen (IHK) pada bulan April melonjak 7,2% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini merupakan rekor tercepat dalam tiga tahun terakhir, sekaligus jauh melampaui estimasi survei Bloomberg serta perkiraan bank sentral di kisaran 5,6%–6,4%. Sebagai perbandingan, inflasi pada bulan Maret hanya berada di level 4,1%.
Data terbaru ini menggarisbawahi betapa cepatnya tekanan harga menyebar di ekonomi Asia Tenggara ini, yang mengandalkan hampir seluruh kebutuhan minyaknya dari impor asal Timur Tengah. Kondisi ini memberikan tekanan berat bagi Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP), yang sebelumnya sempat memberi sinyal hanya akan mengambil langkah pengetatan moneter secara bertahap demi menjaga pemulihan ekonomi.
“Kami tidak mengesampingkan kemungkinan adanya kenaikan bunga yang kuat di luar jadwal pertemuan rutin,” ujar Emilio Neri Jr., kepala ekonom di Bank of the Philippine Islands. Ia menambahkan bahwa BSP kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga utama lebih dari 25 basis poin, baik dalam pertemuan reguler maupun pertemuan luar biasa.































