Kedua, kembali menerbitkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk mendorong aliran modal asing masuk ke Indonesia atau capital inflow, untuk mengimbangi kondisi aliran modal keluar atau outflow di pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan pasar modal.
Ketiga, bank sentral akan terus membeli SBN di pasar sekunder. Sejak awal tahun sampai setidaknya akhir April 2026, BI telah membeli SBN di pasar sekunder sekitar Rp123,1 triliun.
"Kami akan melakukan koordinasi, termasuk nanti pak Menteri Keuangan bisa melakukan masalah buyback (pembelian kembali SBN) dan segala macam, kami koordinasi sangat erat antara fiskal dan moneter," ungkap Perry.
Keempat, BI dan Kementerian Keuangan akan bekerja sama menjaga likuiditas di perbankan dan pasar uang. Saat ini, likuiditas sudah lebih dari cukup, terindikasi dari pertumbuhan uang primer yang selalu dua digit.
Kelima, bank sentral menerbitkan kebijakan pembatasan pembelian dolar AS di pasar domestik tanpa underlying, dari semula US$100.000/orang/bulan, kini menurun menjadi US$50.000/dolar/bulan. Ke depan, pembatasan bahkan akan diturunkan lagi menjadi US$25.000/orang/bulan.
"Itu yang kami langsung koordinasi dengan KSSK (Komite Stabilitas Sistem Keuangan) untuk penguatan-penguatan," kata dia.
Keenam, upaya penguatan pasar intervensi di Offshore NDF agar lebih mampu mengendalikan perkembangan nilai tukar di offshore luar negeri. Selain itu, BI juga mengizinkan bank-bank domestik untuk ikut menjual Offshore NDF di luar negeri, sehingga pasokan lebih lebih banyak dan tentu akan memperkuat stabilisasi dari nilai tukar rupiah.
Ketujuh, peningkatan pengawasan kepada bank-bank dan korporasi yang memiliki aktivitas pembelian dolar tinggi. Hal ini dilakukan berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memastikan stabilitas sistem keuangan terjaga.
Pada kesempatan yang sama, Perry Warjiyo menemui Presiden Prabowo Subianto, salah satunya membahas terkait pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terjadi belakangan ini.
Dalam pertemuan tersebut, dia membeberkan bahwa nilai tukar rupiah mengalami tekanan dalam jangka pendek akibat dua hal, yakni faktor kondisi global dan faktor musiman.
"Faktor global yang menyebabkan tekanan nilai tukar dalam jangka pendek adalah harga minyak yang tinggi," ujar Perry.
Selain itu, faktor global yang dimaksud juga terkait suku bunga acuan bank sentral AS yang kembali meningkat. Hal itu turut mengerek imbal hasil obligasi pemerintah AS atau yield US Treasury tenor 10 tahun mencapai level 4,47%.
Tak hanya itu, dolar AS juga akhirnya menguat akibat adanya pelarian modal ke negara maju dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dari sisi faktor musiman, dia menjelaskan permintaan dolar AS di pasar domestik meningkat pada periode April, Mei, dan Juni. Hal ini terjadi akibat adanya pembayaran repatriasi dividen korporasi, pembayaran utang, dan momentum ibadah haji.
Dalam kesempatan tersebut, Perry menjelaskan bahwa nilai tukar rupiah memang undervalue atau berada di bawah harga wajar. Namun, dia meyakini kondisinya akan menguat dan stabil dalam waktu dekat karena fundamental ekonomi Indonesia kuat.
"Tapi rupiah adalah undervalue, dan ke depan akan stabil dengan kecenderungan menguat," tegas Perry.
Fundamental yang kuat, lanjut Perry, tercermin dari pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 yang mencapai 5,61%. Kemudian, inflasi rendah, kredit perbankan tumbuh tinggi, serta cadangan devisa yang berada di level atas.
"Ini adalah fundamental yang menunjukkan mestinya rupiah akan stabil dan cenderung menguat," tuturnya.
(lav)



























