Sebuah Riset Simpulkan AI Bukan Menggantikan Pekerjaan
Merinda Faradianti
05 May 2026 20:30

Bloomberg Technoz, Jakarta - Riset terbaru Boston Consulting Group (BCG) memperkirakan, dalam dua hingga tiga tahun ke depan sekitar 50% hingga 55% pekerjaan di Amerika Serikat akan mengalami perubahan signifikan akibat kecerdasan buatan (AI).
“Bagi banyak karyawan, ini berarti mereka tetap berada di posisi yang sama atau serupa, namun menghadapi ekspektasi berbeda terkait cara kerja dan hasil yang dihasilkan,” tulis BCG dalam laporan bulan lalu, dikutip Selasa (5/5/2026).
Dalam jangka lebih panjang lima tahun atau lebih, sekitar 10% hingga 15% pekerjaan di AS diperkirakan berpotensi hilang sepenuhnya. Meski tergolong signifikan, angka ini tetap lebih kecil dibandingkan jumlah pekerjaan yang hanya mengalami perubahan bentuk.
BCG membagi dampak AI terhadap tenaga kerja menjadi dua kategori utama: augmentasi, yaitu ketika AI memperkuat kemampuan manusia, dan substitusi, atau saat AI menggantikan peran manusia.
Dalam laporan tersebut, BCG menghitung proporsi pekerjaan yang memiliki setidaknya 40% tugas yang dapat diotomatisasi. Sebuah batas toleransi di mana perancangan ulang peran dan organisasi menjadi semakin relevan secara bisnis.
Sekitar 43% pekerjaan berada di atas ambang ini dan menjadi fokus analisis. Sementara itu, 57% pekerjaan lainnya sangat bergantung pada kehadiran fisik, interaksi manusia, atau konteks unik, sehingga lebih sulit untuk diotomatisasi.
Contoh substitusi terlihat pada layanan pelanggan atau call center, di mana AI mampu menangani pertanyaan rutin sehingga kebutuhan agen manusia berkurang. Sebaliknya, profesi seperti insinyur bidang perangkat software menunjukkan pola augmentasi - saat di mana AI mempercepat proses penulisan kode, namun tidak menggantikan penilaian sistem, desain arsitektur, dan pengambilan keputusan teknis.
Menariknya, jumlah tenaga kerja di bidang rekayasa perangkat software justru terus meningkat sejak peluncuran ChatGPT pada 2022. Fakta ini menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas tidak selalu berujung pada pengurangan tenaga kerja, terutama jika permintaan juga meningkat.
“Output berkembang dan volume pekerjaan secara keseluruhan dapat tetap stabil atau bahkan tumbuh, meskipun produktivitas individu meningkat, karena manusia tetap memainkan peran penting,” tulis BCG.
Perusahaan konsultan kenamaan dunia ini mengklasifikasikan pekerjaan ke dalam enam kategori berdasarkan tingkat otomatisasi dan elastisitas permintaan:
Amplified Roles (5%)
AI memperkuat kapabilitas manusia dan mendorong peningkatan permintaan, sehingga lapangan kerja tetap stabil atau tumbuh. Contohnya insinyur perangkat lunak dan pengacara di bidang konsultasi.
Rebalanced Roles (14%)
Tugas rutin diotomatisasi, sementara tanggung jawab yang lebih kompleks meningkat. Jumlah tenaga kerja relatif stabil, tetapi peran mengalami desain ulang. Contohnya pemasar konten dan peneliti akademik.
Divergent Roles (12%)
AI menggantikan pekerjaan di level junior, sementara peran senior justru berkembang. Contohnya agen penjualan asuransi dan teknisi IT support.
Substituted Roles (12%)
Ketika permintaan terbatas dan AI menggantikan peran inti manusia, terjadi pengurangan tenaga kerja. Contohnya analis keuangan untuk tugas rutin.
Enabled Roles (23%)
AI terintegrasi dalam aktivitas sehari-hari dan mengubah cara kerja, tanpa mengubah struktur pekerjaan secara mendasar. Contohnya asisten pada bidang klinis dan teknisi laboratorium.
Limited-Exposure Roles (34%)
Pekerjaan yang sangat bergantung pada kehadiran fisik, hubungan interpersonal, atau konteks kompleks yang sulit diotomatisasi, seperti dokter dan guru.
Di sisi lain, BCG menekankan bahwa tantangan utama bukan hanya jumlah pekerjaan yang hilang, melainkan kecepatan adaptasi tenaga kerja.
Sejalan bahwa AI mengambil alih tugas-tugas rutin yang biasanya diisi oleh karyawan junior, posisi entry-level berpotensi berkurang dalam jangka pendek.
Sementara itu, beban kognitif pekerja yang tersisa akan meningkat. Pasar pekerjaan akan semakin berfokus pada pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan integrasi berbagai input kompleks.
BCG juga mengingatkan bahwa strategi tenaga kerja tidak bisa sekadar menjadi turunan dari strategi otomatisasi. Para CEO perlu mengintegrasikan strategi tenaga kerja ke dalam perencanaan bisnis, memfokuskan otomatisasi pada perancangan ulang proses, bukan sekadar efisiensi biaya serta menempatkan upskilling, reskilling, dan redeployment sebagai inti kebijakan SDM.
“AI menciptakan peluang besar bagi para pemimpin bisnis, tetapi juga ketidakpastian yang siignifikan dalam hal bagaimana membukanya. Sebagai bagian siklus bisnis normal, kemungkinan akan dikaitkan dengan AI, yang akan menciptakan ketakutan di Tingkat masyarakat.”






























