Logo Bloomberg Technoz

Ekonom: Rupiah Ditekan Sentimen Eksternal dan Kekhawatiran Fiskal

Mis Fransiska Dewi
30 April 2026 13:20

Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank (Bloomberg Technoz/Arie Pratama)
Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank (Bloomberg Technoz/Arie Pratama)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Ekonom berpandangan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang semakin terperosok di level Rp17.353/US$, bukan karena persoalan dolar global, melainkan gabungan antara tekanan eksternal, kebutuhan valas domestik, dan kekhawatiran fiskal.

“Jadi masalah rupiah bukan semata-mata dolar global, tetapi gabungan antara tekanan eksternal, kebutuhan valas domestik, dan kekhawatiran fiskal,” kata Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede saat dihubungi, Kamis (30/4/2026). 

Josua menjelaskan rupiah yang undervalued tidak otomatis akan langsung menguat lantaran pasar saat ini tidak hanya melihat fundamental, tetapi juga risiko. Tekanan terbesar datang dari harga minyak yang kembali tinggi, ketidakpastian perang Timur Tengah, penutupan atau gangguan Selat Hormuz, dan penguatan permintaan terhadap dolar. 


Menurut dia, rupiah menyentuh level terendah baru ketika minyak acuan dunia atau Brent diperdagangkan mendekati US$111/barel–US$112/barel dan mata uang negara pengimpor minyak Asia ikut tertekan. 

“Ini penting untuk Indonesia karena Indonesia adalah pengimpor bersih migas. Ketika minyak naik, kebutuhan dolar untuk impor energi meningkat, beban subsidi dan kompensasi energi membesar, dan pasar mulai menghitung risiko pelebaran defisit transaksi berjalan serta defisit APBN,” terangnya.