Bahkan, beberapa ekonom memproyeksikan ekspor terkontraksi. Seperti Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) David Sumual memproyeksikan ekspor terkontraksi 1,3%. Adapun Kepala Ekonom PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) Juniman memproyeksikan kontraksi lebih dalam sebesar 10,38%.
Jika perkiraan konsensus ini terjadi, penurunan impor bisa di anggap sebagai kabar baik bagi capaian neraca eksternal. Namun dalam kondisi seperti sekarang ini, perlambatan impor juga dapat diartikan sebagai pelemahan permintaan domestik, baik dari sisi konsumsi maupun investasi.
Dunia usaha nampaknya tengah menahan ekspansi, sementara tekanan harga dan ketidakpastian global ikut membuat aktivitas produksi tidak seagresif bulan-bulan sebelumnya.
Artinya, impor bukan turun karena adanya efisiensi struktural, tapi karena ekonomi domestik mulai kehilangan daya dan tenaganya.
Di sisi lain, proyeksi ekspor yang juga melambat justru tambah mengkhawatirkan. Pertumbuhan ekspor yang diproyeksikan hanya sebesar 0,74% menggambarkan bahwa sektor eksternal Indonesia juga mulai kehilangan tenaganya.
Kondisi ini memang tidak terlepas dari situasi global yang penuh ketidakpastian. Perang telah membuat harga minyak melambung di atas US$110 per barel membuat perekonomian di negara-negara mitra dagang juga sedang tidak baik-baik saja.
Padahal, selama ini ekspor menjadi bantalan utama bagi stabilitas eksternal Indonesia. Pelemahan rupiah yang terjadi sejak awal tahun 2026 membuat cadangan devisa Bank Indonesia tergerus cukup dalam.
Pada Februari cadangan devisa juga tergerus US$2,68 miliar menjadi US$151,9 miliar. Pada Maret cadangan devisa berlanjut menyusut US$3,7 miliar dibandingkan bulan sebelumnya menjadi US$148,2 miliar.
Dalam kondisi seperti ini, stabilitas eksternal jadi semakin bergantung pada faktor di luar sektor riil, khususnya aliran modal asing. Akan tetapi, ketergantungan Indonesia terhadap arus modal tentu bukan 'obat' paten yang bisa jadi solusi jangka panjang.
Sebab, di tengah ketidakpastian geopolitik, pasar cenderung mudah berbalik arah, terutama di tengah suku bunga global yang masih tinggi.
Pekan lalu, saat bank sentral Amerika Serikat (AS) menetapkan kebijakan suku bunga di level yang sama, pasar kembali bergejolak dan melepas sebagian besar surat utang negara (SUN) di pasar. Imbal hasil pun melonjak naik.
Agaknya, bagi ekonomi domestik tak cukup cuma menjaga defisit tetap terkendali. Lebih dari itu, kualitas keseimbangan eksternal jadi faktor penting untuk pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.
(dsp)





























