Tekanan ini meningkat pada Kamis ketika rupiah dan rupee melemah lebih dari 0,5% terhadap dolar AS hingga menyentuh level rendah, sementara peso sempat mendekati titik tersebut.
Bagi rupiah yang menjadi terlemah kedua dalam sepekan ini, naiknya harga minyak menciptakan tekanan ganda. Defisit transaksi berjalan yang diperkirakan kembali melebar seiring tingginya harga minyak menjadi faktor kunci yang membayangi pergerakan rupiah.
Ketergantungan Indonesia terhadap impor energi membuat kenaikan harga minyak global secara langsung memperbesar kebutuhan devisa, sehingga memperlebar defisit dan meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar.
Saat ini, pelaku pasar tengah menanti rilisnya data capaian ekspor impor pada Senin, 4 Mei. Data ini akan menjadi momen penting untuk mengukur fundamental ekonomi dari sisi keseimbangan eksternal atau defisit neraca berjalan.
Jika surplus dari neraca dagang Maret lebih rendah dari US$1,5 juta, maka Rupiah akan kembali tertekan oleh risiko pelebaran defisit neraca berjalan ke rentang atas proyeksi BI mendekati -1.30% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Sebagai catatan, rupiah di pasar spot telah berkali-kali menyentuh level terendahnya pada bulan April dan hampir menembus Rp17.400/US$. Sejumlah ekonom menyebut, intervensi yang diupayakan otoritas moneter hanya mampu memperkuat rupiah secara teknis, alih-alih berkelanjutan.
(dsp)






























