Logo Bloomberg Technoz

Dalam kesempatan itu, Andry juga meyakini baterai mobil listrik berbasis nickel manganese cobalt (NMC) tetap memiliki pasarnya tersendiri, meskipun permintaan baterai berbasis lithium ferro phosphate (LFP) tumbuh lebih pesat.

Andry mencatat kelebihan baterai LFP adalah lebih murah, bahkan memiliki harga yang lebih efisien sekitar 30% dari baterai NMC.

Dengan demikian, dia mendorong pemerintah untuk mendorong implementasi NMC alih-alih LFP dan membuat regulasi yang dapat mendorong harga baterai NMC lebih murah.

“Kalau saya mengatakan memang, apakah masih ada pasar bagi NMC? NMC plus baterai. Jawabannya masih ada sebetulnya. Meskipun tantangan dari NMC itu adalah di aspek harga. Selama NMC bisa menghasilkan dari sisi harga jauh lebih kompetitif daripada LFP, saya rasa konsumen akan tetap memilih mana yang paling murah,” ucap Adnry.

Selain itu, dia meyakini baterai NMC tetap dibutuhkan ke wilayah-wilayah dengan suhu dingin yang cocok dengan baterai nikel tersebut. Andry memandang Eropa, Rusia, dan Kanada merupakan pasar potensial untuk baterai NMC.

“[Hal] yang masih belum terlihat apakah insentif dari pemerintah bisa diarahkan kepada ekspor base production. Kalau ini bisa dilakukan, saya rasa NMC masih memiliki pasar di luar,” tegas dia.

Adapun, BMI, lengan riset dari Fitch Solutions Company, memperkirakan pertumbuhan permintaan nikel global pada 2026 hanya akan mencapai sekitar 3%, melambat dari pertumbuhan permintaan 2025 yang diprediksi sebesar 5,8%.

Dalam riset terbarunya, BMI mencatat terdapat peningkatan penggunaan baterai kendaraan listrik nonnikel seperti LFP, yang memiliki biaya lebih rendah dan umur siklus yang lebih panjang.

Berdasarkan data Badan Energi Internasional (IEA), pada 2024, pangsa pasar LFP di China naik menjadi 75% dari sebelumnya pada 2022 sekitar 62%. Sementara itu, di pasar global, pangsa pasar LFP naik menjadi 50% dari sebelumnya 38%.

Untuk baterai berbasis nikel, pangsa pasar pada 2024 turun menjadi 25% di China dari 34% pada 2022. Di pasar global, pada 2024 tercatat sebesar 46% dari sebelumnya pada 2022 sebesar 54%.

“Pergeseran komposisi ini kemungkinan akan menjaga sentimen pasar tetap lesu dan menahan pertumbuhan permintaan nikel meskipun ada dorongan makroekonomi yang lebih luas,” tulis BMI dalam riset terbarunya, Kamis (16/4/2026).

Dalam riset berbeda, BMI mengungkapkan salah satu permasalahan lambatnya adopsi EV di pasar global selain China adalah keterjangkauan harga baterai.

Hanya China yang saat ini memimpin pemanfaatan baterai LFP untuk industri EV-nya. Penggunaan baterai LFP di China menguasai lebih dari 70% pangsa pasar baterai kendaraan listrik negara tersebut.

“Dengan memanfaatkan biaya litium yang lebih rendah dari nikel dan kobalt, produen China telah mampu menawarkan sejumlah EV entry-level yang sangat terjangkau seperti BYD Seagull yang dibanderol dengan harga sekitar CNY56.800 [sekitar US$7.800],” papar BMI.

BMI menyebut 65% EV di China Daratan lebih terjangkau daripada mobil berbahan bakar fosil atau internal combustion engine (ICE). Sebagai perbandingan, di Amerika Serikat (AS) dan Jerman tidak sampai 30% EV lebih terjangkau daripada ICE.

“Kami yakin bahwa peningkatan adopsi baterai LFP akan menjadi kunci untuk meningkatkan adopsi EV di pasar global,” papar lembaga riset tersebut.

Sekadar informasi, Dalam Permendagri No.11 Tahun 2026 dijelaskan bahwa kendaraan EV kini tak lagi dikecualikan dari pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB), yang berarti akan dikenakan pajak sesuai ketentuan yang berlaku.

(azr/wdh)

No more pages