Logo Bloomberg Technoz

“Kurangnya pasokan aluminium global menempatkan Indonesia pada posisi tawar yang strategis. Investasi besar-besaran dari perusahaan global, termasuk China, menunjukkan bahwa Indonesia dianggap mampu menyediakan stabilitas produksi melalui keunggulan biaya energi dan kedekatan sumber bahan baku yakni bauksit,” ujar dia.

Dihubungi terpisah, analis komoditas dan founder Traderindo Wahyu Laksono mencatat harga alumina saat ini berada di level terendah sejak 2021, yakni sekitar US$300/ton. 

Harga alumina makin turun./dok. Bloomberg

Dengan begitu, perusahaan pengolahan alumina diprediksi mendapatkan margin keuntungan yang sangat tipis, sebab pendapatan ekspor dari produk antara tersebut menjadi tak optimal.

Lebih jauh, Wahyu mencatat perang di Timur Tengah mendorong harga aluminium ke atas US$3.300—US$3.500 per ton. Kondisi tersebut berpotensi membuat Indonesia mendapatkan untung besar dari ekspor aluminium.

Hal itu juga diyakini membuat smelter aluminium domestik mendapatkan bahan baku alumina dengan harga diskon dari dalam negeri, sehingga biaya produksi menjadi jauh lebih kompetitif dibandingkan dengan smelter global yang harus mengimpor alumina.

“Wilayah Timur Tengah menyumbang sekitar 9% pasokan aluminium dunia. Gangguan logistik di sana menciptakan celah pasar yang besar bagi Indonesia untuk menjadi eksportir alternatif bagi Asia Timur [China, Jepang, Korea] dan Eropa,” kata Wahyu ketika dihubungi, Kamis (23/4/2026).

Harga Aluminium Melonjak Sejak Perang Iran Dimulai. (Bloomberg)

Adapun, berdasarkan data analis logam dasar Fastmarkets Andry Farida kapasitas produksi pabrik pengolahan alumina saat ini mencapai 9 juta ton per tahun. Pabrik pengolahan tersebut membutuhkan sekitar 33—36 juta ton bauksit per tahun.

Terdapat total 16 pabrik pengolahan yang beroperasi dan masih dalam tahap rencana pembangunan, dengan sasaran kapasitas produksi bisa mencapai 27,3 juta ton.

Jika seluruh pabrik pengolahan tersebut beroperasi, kebutuhan bijih bauksit bisa mencapai 95—105 juta ton per tahun.

Untukk aluminium, terdapat empat smelter yang sudah beroperasi dengan produksi 1,1 juta ton dari total kapasitas produksi 1,98 juta ton. Smelter tersebut membutuhkan sekitar 2,2 juta ton alumina per tahun.

Pabrik pengolahan alumina yang sudah beroperasi a.l. Well Harvest Winning (Hongqiao) dengan produksi 2 juta ton, PT Indonesia Chemical Alumina (ICA) sebesar 300.000 ton, dan PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) sebesar 1 juta ton (potensial 2 juta ton).

Lalu, PT BAI Bintan Alumina Indonesia (Nanshan) sebesar 4 juta ton, serta PT Borneo Alumindo Prima - BAP (Jinjing Group) sebesar 1,75 juta ton dengan potensi ekspansi hingga 6 juta ton.

Sementara itu, sejumlah proyek masih belum beroperasi, yakni PT Kalimantan Alumina Nusantara (KAN) dengan kapasitas potensial 1 juta ton, East Hope Group sebesar 6 juta ton, PT Laman Mining sebesar 4 juta ton, serta PT Dharma Inti Bersama (DIB) Harita sebesar 2 juta ton.

Proyek lainnya a.l. PT Tian Shan Alumina Indonesia, PT Quality Sukses Sejahtera, PT Dinamika Sejahtera Mandiri, PT Parenggan Makmur Sejahtera, PT Persada Pratama Cemerlang, PT Sumber Bumi Marau, dan PT Kalbar Bumi Perkasa juga tercatat belum beroperasi tanpa perincian kapasitas tambahan.

Untuk smelter aluminium yang telah beroperasi meliputi Inalum dengan produksi 250.000 ton (potensi 600.000 ton), Huachin Aluminium Indonesia sebesar 500.000 ton (potensial 1 juta ton), Alamtri (Adaro) Kaltara sebesar 100.000 ton dengan rencana peningkatan kapasitas hingga 500.000 ton dan potensi 1,5 juta ton, serta Tsingshan JV Xinfa – Juwan sebesar 250.000 ton.

Beberapa proyek dijadwalkan mulai beroperasi pada 2026, yakni Tsingshan JV Xinfa – Taijing dengan kapasitas 180.000 ton (potensial 600.000 ton), Tsingshan JV Xinfa – Xianfeng sebesar 50.000 ton (potensial 250.000 ton), serta PT Bintan Electrolytic Aluminium (BEA) sebesar 250.000 ton.

Sementara itu, proyek lain masih belum beroperasi a.l. Shandong Weiqiao–Harita JV dan Nanshan yang masing-masing memiliki potensi kapasitas 1 juta ton, serta sejumlah proyek dalam tahap rencana seperti milik East Hope Group kapasitas produksi 2,4 juta ton), dan CMOC Group kapasitas produksi  2 juta ton, Bosai Minerals Group kapasitas produksi 1 juta ton.

Selanjutnya, PT Borneo Alumindo Prima Kaltara kapasitas produksi 1 juta ton, Dharma Inti Bersama (DIB) Harita kapasitas produksi 1 juta ton, danPT Cita Mineral Investindo Tbk. kapasitas produksi 500.00 ton.

Adapun, harga aluminium di London Metal Exchange (LME) siang ini mencapai US$3.613,50, menguat 1,59% dari penutupan kemarin.

(azr/wdh)

No more pages