Logo Bloomberg Technoz

Ruang Fiskal

Meski demikian, Moshe tetap menekankan pemerintah untuk menyiapkan ruang fiskal yang lebih besar. Apalagi, harga minyak global yang meningkat membuat Indonesia harus siap membayar lebih mahal guna ntuk mengamankan pasokan.

Sembari mengingatkan anggaran, pemerintah juga perlu memilah ulang belanja negara dan memprioritaskan program yang berdampak langsung terhadap ketahanan energi.

"Karena untuk kita bersaing, kita harus punya duit juga. Mau gimana? Untuk beli harga lebih mahal. Itu harus disiapkan oleh pemerintah," jelasnya.

"[Membeli dari] Rusia, sebenarnya saya sudah disarankan sejak tahun lalu kita beli [minyaknya], sejak 2024 awal-awal itu. Yuk kita manfaatkan migas dari Rusia, karena lebih murah. Kita bisa saving berapa ratus triliun. Kalau [itu] kita sudah lakukan sejak 2 tahun yang lalu [enggak perlu keluar biaya besar]. Sekarang udah enggak ada diskon lagi," tegasnya.

Manuver Pertamina

Dihubungi secara terpisah, pakar industri migas sekaligus Direktur Utama PT Petrogas Jatim Utama Cendana (PJUC) Hadi Ismoyo menilai PT Pertamina (Persero) harus lebih agresif utamanya dalam melakukan penawaran harga guna mengamankan kargo minyak di tengah kompetisi global dalam perburuan komoditas energi.

Toh kata dia, sebentuknya pasokan minyak dunia masih tersedia meski berkurang dari kawasan Teluk, karena produsen lain akan meningkatkan produksi saat harga tinggi.

Namun demikian, dia menegaskan kunci utama tetap pada strategi pengadaan.

"Walau stok minyak berkurang 20% dari GCC [Gulf Cooperation Council], sesuai hukum dagang, negara negara producer akan mengenjot produksinya karena harga sedang bagus, walau tidak full fill mengisi 20% kekurangan tersebut."

"Artinya stok ada, tinggal bagaimana Pertamina secara agresif bisa mengamankan kargo dengan membuat penawaran harga yang menarik bagi seller," jelas Hadi. 

Di samping itu, dia juga menyarankan dilakukannya diversifikasi sumber impor ke luar Timur Tengah, seperti Afrika Barat, Rusia, hingga Amerika, untuk mengurangi ketergantungan pada satu kawasan.

Sembari menekankan perlunya pembenahan tata kelola energi dalam jangka pendek hingga panjang, mulai dari efisiensi konsumsi, perbaikan distribusi bahan bakar minyak (BBM) dan gas minyak cair atau liquefied petroleum gas (LPG), hingga percepatan konversi energi ke gas dan listrik.

"Jangka menengah panjang, terus melakukan kampanye eksplorasi hulu di 6 sweet spot untuk roadmap giant discovery," tekannya.

Untuk diketahui, persaingan Asia dalam mendapatkan sumber caadangan minyak makin memanas seiring dengan kondisi perang yang makin tidak menentu di Teluk Persia.

Pembeli minyak terbesar di Asia—seperti China dan India — awalnya mampu meredam dampak perang di Teluk Persia dengan berbagai strategi, mulai dari memanfaatkan pasokan Rusia dan Iran hingga menjalin kesepakatan bilateral. 

Pengiriman Minyak Mentah ke Asia. (Bloomberg)

Namun, kondisi tersebut mulai berubah seiring dengan menipisnya pasokan minyak alternatif yang tersedia di laut dan terhentinya lalu lintas di Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital distribusi energi global.

India menjadi pihak yang paling rentan karena ketergantungan tinggi pada impor minyak dan LPG dari kawasan Teluk. Meski sempat mengandalkan pasokan Rusia, volume minyak yang tersedia terus menyusut dan harganya tidak lagi diskon.

Sementara itu, meski China relatif lebih tahan berkat cadangan energinya yang besar dan strategi diversifikasi pasokan, tetapi tetap terdampak kenaikan harga dan berkurangnya suplai global.

Secara keseluruhan, krisis ini memperketat pasokan minyak di Asia, dan memungkinkan meningkatnya persaingan antarnegara, serta memperbesar tekanan ekonomi di tengah ketidakpastian geopolitik dan sanksi yang terus berkembang.

(wdh)

No more pages