Seorang pejabat Pasukan AS di Korea (USFK) menyatakan pada Senin bahwa pihaknya telah mengetahui laporan media tersebut. Ia menambahkan bahwa militer AS terus bekerja sama dengan Korsel untuk mencegah agresi dan menjaga perdamaian di Semenanjung Korea. Sementara itu, Kedutaan Besar AS di Seoul menolak berkomentar mengenai percakapan diplomatik saat dihubungi oleh Bloomberg News.
Menurut laporan Yonhap News yang mengutip seorang pejabat militer senior, AS dikabarkan telah membatasi berbagi sejumlah intelijen Korut yang dikumpulkan melalui satelit sejak awal bulan ini. Meski demikian, laporan tersebut menyebutkan bahwa pembagian informasi mengenai aktivitas militer harian Korea Utara tetap berjalan seperti biasa.
Menteri Chung Dong-young, yang kembali menjabat sebagai menteri urusan hubungan antar-Korea sejak Juli lalu, turut memberikan pembelaan melalui media sosial.
"Klaim mengenai kebocoran intelijen sepenuhnya tidak berdasar," tegas Chung melalui unggahan di Facebook. Ia mengaku belum menerima laporan apa pun mengenai fasilitas nuklir Korea Utara sejak mulai menjabat, dan mengkritik pihak oposisi karena "melebih-lebihkan situasi seolah-olah terjadi keretakan besar antara Korea Selatan dan AS."
Insiden ini terjadi di tengah langkah pemimpin Korut, Kim Jong-un, yang terus mempercepat pengembangan kemampuan nuklir dan rudalnya saat perhatian AS sedang teralihkan ke konflik di Timur Tengah. Sebagai sekutu utama yang menampung sekitar 28.500 tentara Amerika, Korsel juga berada di bawah tekanan Presiden Donald Trump untuk mengirimkan kapal perang ke Selat Hormuz guna membantu melindungi jalur pelayaran internasional.
(bbn)






























