Logo Bloomberg Technoz

Minat terbesar terkonsentrasi pada tenor 12 bulan. Dari total penawaran, sebanyak Rp40,7 triliun masuk pada tenor ini. BI pun menyerap Rp17 triliun, lebih banyak daripada tenor 6 bulan senilai Rp1,5 triliun, dan 9 bulan Rp500 miliar. 

Namun di balik besarnya animo investor meminang SRBI, ada pesan hati-hati yang tersemat. 

Sebab rentang penawaran imbal hasil relatif lebar sekitar 5,45% hingga 6,05%. Hal ini mengindikasikan bahwa pelaku pasar masih menimbang risiko domestik dengan serius. 

Sementara di pasar obligasi, arus masuk pada Kamis (16/4/2026) tercatat sebesar US$257 juta. Meski secara pergerakan imbal hasil masih cenderung beragam. 

Tenor pendek dan menengah tercatat masih mengalami kenaikan imbal hasil yang artinya terjadi tekanan jual oleh investor.

Tenor 1 tahun naik 2,7 bps ke 5,65%, disusul tenor 3 tahun mencatatkan kenaikan imbal hasil 3,2 bps menjadi 6,06%, tenor 4 tahun naik 0,6 bps ke 6,28%.

Sementara tenor acuan 10 tahun juga masih mencatatkan imbal hasil yang relatif stabil dengan kenaikan 1,1 bps ke 6,59%. 

Imbal hasil surat utang tenor acuan 10 tahun. (Bloomberg)

Sebaliknya, imbal hasil tenor seperti 2 tahun tercatat turun 9,5 menjadi 5,88%, disusul tenor 6 dan 7 tahun yang turun tipis masing-masing 0,1 bps ke 6,37% dan 6,51%. 

Namun, di pasar obligasi adanya kenaikan imbal hasil pada tenor pendek dan menengah menandakan masih adanya tekanan jual. 

Dana asing yang masuk ke instrumen SRBI dan obligasi akhir pekan lalu memberikan bantalan bagi rupiah di awal pekan ini. 

Memang, peran BI dengan memperbanyak frekuensi lelang SRBI menjadi dua kali sepekan menjadi upaya dalam menjaga daya tarik aset rupiah. 

Sebagai catatan, investor asing tercatat terus mengakumulasi SRBI sejak awal 2026. Kepemilikan pada Maret sempat turun 4,56% menjadi Rp143,91 triliun dari posisi Februari Rp150,79 triliun.

Namun, posisi investor asing di SRBI pada November 2025 hanya Rp86,66 triliun, lalu melonjak pada Desember menjadi Rp114,05 triliun, dan Januari naik menjadi Rp121,9 triliun.

Akan tetapi, pendekatan melalui lelang instrumen ini di tengah sempitnya ruang pelonggaran juga bisa jadi pedang bermata dua. 

Di satu sisi, peningkatan lelang SRBI cukup efektif menjaga daya tarik aset rupiah dan menahan tekanan dari arus keluar modal asing. Imbal hasil kompetitif jadi magnet bagi investor memarkirkan dananya di pasar domestik. 

Namun di sisi lain, kondisi ini membuat biaya pembiayaan jadi lebih tinggi. Selain itu, konsekuensi lainnya juga bisa timbul.

Ketika instrumen seperti SRBI menawarkan imbal hasil menarik, perbankan dan pelaku pasar cenderung memarkirkan likuiditas di instrumen ini dibandingkan menyalurkannya ke sektor riil. 

(dsp/aji)

No more pages