Logo Bloomberg Technoz

Namun yang jadi perhatian Jovent dan Axel, sebagian besar kekhawatiran pasar setidaknya mulai mereda dalam jangka pendek.

“Kami menilai pelemahan yield atas rupiah, disertai komitmen pemerintah menjaga defisit anggaran di bawah 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB),  serta potensi earnings di atas konsensus pasar pada kuartal I–2026 akan menjadi faktor yang mendorong pembalikan arah IHSG,” papar mereka dalam riset terbaru yang dipublikasikan, Senin (20/4/2026).

Diskusi Indo Premier dengan investor asing menunjukkan risiko penurunan status menjadi frontier market relatif sangat kecil, terutama setelah peringatan dari MSCI yang mendorong otoritas pasar modal untuk meningkatkan transparansi dan keterbukaan informasi.

Upaya tersebut mencakup penambahan kategori pemegang saham dari 9 menjadi 39 kategori, pengungkapan kepemilikan di atas 1%, serta pembentukan daftar konsentrasi kepemilikan saham tinggi (serupa dengan yang diterapkan di Hong Kong). Sebagian besar investor menilai langkah–langkah ini cukup memadai dibanding dengan pasar emerging market lainnya.

Secara terpisah, Kementerian Keuangan juga berkomitmen untuk menjaga defisit fiskal tetap di bawah 3% PDB, bahkan dalam skenario harga minyak mencapai rata–rata US$100 per barel.

“Kami juga memprediksi adanya potensi kinerja yang melampaui ekspektasi (earnings beat) pada hasil kuartal I–2026, utamanya di sektor perbankan, komoditas (logam dan batu bara), serta konsumer,” papar mereka.

Dengan berbagai sentimen itu, pilihan saham Tim Riset Indo Premier Sekuritas terdiri dari Jovent Muliadi dan Axel Azriel meliputi:

Perbankan: BMRI, BBNI, BRIS, BBTN
Logam: ANTM, MBMA, TINS
Batu bara: AADI
Konsumer: MAPI dan GOTO

Bersamaan dengan meredanya sentimen kurang positif di pasar dan potensi pembalikan arah IHSG, berikut 10 saham dengan nilai net buy terbesar, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) selama 2026:

  1. PT Astra International Tbk (ASII) Rp2,69 triliun
  2. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) Rp1,91 triliun
  3. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) Rp1,88 triliun
  4. PT United Tractors Tbk (UNTR) Rp1,72 triliun
  5. PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) Rp1,57 triliun
  6. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) Rp1,49 triliun
  7. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) Rp962,88 miliar
  8. PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) Rp926,79 miliar
  9. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) Rp823,06 miliar
  10. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) Rp720,48 miliar

10 saham dengan net sell sepanjang perdagangan 2026:

  1. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp21,82 triliun
  2. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Rp8,41 triliun
  3. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp4,97 triliun
  4. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp4,49 triliun
  5. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Rp2,85 triliun
  6. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp1,63 triliun
  7. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) Rp1,31 triliun
  8. PT Indah Kiat Pulp and Paper Corp Tbk (INKP) Rp655,82 miliar
  9. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp606,66 miliar
  10. PT Indofood CBP Tbk (ICBP) Rp545,58 miliar

(fad/aji)

No more pages