Sebelumnya pada Jumat, para pemimpin di Teheran mengatakan bahwa Selat Hormuz terbuka untuk pengiriman komersial setelah Israel menyetujui gencatan senjata di Lebanon.
Hal ini menyebabkan penurunan tajam harga minyak, bahan bakar, dan gas alam karena harapan bahwa Washington dan Teheran hampir mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang dan lebih banyak pasokan energi dapat melewati selat tersebut dengan aman.
Minyak mentah Brent diperdagangkan 9% lebih rendah di sekitar US$90 per barel pada Jumat pukul 14.09 waktu New York dan menghapus sebagian besar kenaikan yang terjadi sejak awal perang. Harga solar di AS dan Eropa juga turun.
Lisensi terbaru ini membuka akses pasokan tambahan bagi negara-negara yang tengah berjuang menghadapi kelangkaan bahan bakar yang semakin parah. Beberapa negara Asia telah mendesak pemerintahan Trump untuk memperpanjang pengecualian minyak Rusia karena dampak dari gangguan minyak mentah terus meningkat.
Namun, para kritikus, termasuk negara-negara Eropa, berpendapat bahwa hal itu menguntungkan Moskwa, dan melemahkan rezim sanksi yang diberlakukan setelah invasi Rusia ke Ukraina.
Pengecualian impor minyak mentah Rusia sebelumnya "gagal menenangkan pasar energi global secara signifikan, tetapi justru menghasilkan keuntungan besar bagi Rusia," kata Brett Erickson, direktur utama Obsidian Risk Advisors, perusahaan konsultan yang memberi nasihat kepada lembaga keuangan, pemerintah, dan tim hukum.
"Kini Trump memberikan hadiah kepada musuh-musuh kita. Washington terus membayar harga mahal untuk bantuan ekonomi yang minim."
Perintah Kantor Pengawasan Aset Asing Departemen Keuangan yang diterbitkan Jumat lalu berlaku hingga 16 Mei dan tidak berlaku untuk transaksi yang melibatkan pihak di Iran, Korea Utara, Kuba, dan wilayah tertentu di Ukraina.
Sebelumnya pada Jumat, Presiden Donald Trump mengatakan kepada wartawan bahwa AS dan Iran telah mengadakan "beberapa diskusi yang sangat baik" dan bahwa pembicaraan tersebut akan "berlanjut selama akhir pekan."
(bbn)




























