Selat Hormuz Dibuka, Mampukah AS dan Iran Berdamai Permanen?
News
18 April 2026 14:30

Patrick Sykes - Bloomberg News
Bloomberg, Seiring berakhirnya masa gencatan senjata dua minggu antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, pertanyaan krusial kini muncul. Mampukah kedua negara mencapai kesepakatan final untuk mengakhiri perang yang telah menelan ribuan korban jiwa dan memicu krisis energi global?
Peluang perdamaian tampak menguat setelah Iran menyatakan akan membuka Selat Hormuz bagi pelayaran komersial selama gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon berlangsung. Pemblokiran jalur air tersebut selama ini menjadi isu paling mendesak bagi AS karena dampaknya yang melumpuhkan pasokan minyak dan gas dunia.
Presiden AS Donald Trump menyatakan optimismenya bahwa kedua belah pihak semakin dekat menuju kesepakatan. Namun, sejumlah pemimpin di Eropa dan negara-negara Teluk Arab skeptis perdamaian menyeluruh bisa tercapai dengan cepat. Mereka memperkirakan butuh waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikan isu pelik seperti masa depan program nuklir Iran. Berikut sejumlah hambatan menuju kesepakatan komprehensif yang berkelanjutan.
Selat Hormuz
Setelah perang dimulai, Iran membatasi akses ke jalur perairan vital tersebut, yang biasanya menangani sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia, sehingga mendorong lonjakan harga energi. Iran tetap menyalurkan ekspor minyak mentahnya melalui Hormuz dan hanya mengizinkan kapal tertentu melintas, sering kali setelah negosiasi untuk jalur aman dan terkadang disertai permintaan pembayaran hingga US$2 juta.




























