Logo Bloomberg Technoz

“Jadi kalau masak contoh model kayak orang kaya; masak orang kaya pendapatannya di atas 500 juta per bulan disuruh pakai LPG 3 kilo, sorry ye,” ucap Bahlil.

Adapun, sejumlah masyarakat melaporkan harga LPG 12 Kg mengalami kenaikan. Kondisi ini terjadi ketika gejolak pasar minyak dan gas (migas) dunia gegara penutupan Selat Hormuz, terlebih sekitar 80% pasokan LPG Indonesia didapatkan dari impor.

Elly (68 tahun) mengungkapkan baru saja membeli LPG 12 Kg pada Selasa (14/4/2026). Namun, harga LPG 12 Kg yang dibeli naik menjadi Rp210.000 per kilogram dari biasanya dibeli seharga Rp200.000 per kg.

Elly yang tinggal di wilayah Pondok Labu, Jakarta Selatan membeli gas LPG 12 Kg di pengecer resmi. Dia mengaku stok LPG nonsubsidi tersebut memang dalam kondisi normal tetapi mengalami kenaikan harga.

Di sisi lain, dalam aplikasi MyPertamina milik PT Pertamina Patra Niaga (PPN) harga Bright Gas 12 Kg untuk wilayah Jakarta dibanderol Rp197.000 per tabung.

Dihubungi terpisah, Dwi (26 tahun) yang tinggal di Ciputat, Tangerang Selatan mengaku membeli LPG 12 Kg pada awal April ini seharga Rp210.000 per tabung.

Dia menyatakan tak sulit untuk mencari LPG 12 Kg. Dia membeli LPG nonsubsidi tersebut di pengecer resmi tak jauh dari rumahnya.

“Beli [LPG 12 Kg] terakhir awal bulan ini, [seharga] Rp210.000 [per tabung]. Masih normal kok, masih diantar ke rumah kaya biasa,” kata Dwi ketika berbincang dengan Bloomberg Technoz, Rabu (15/4/2026).

Di sisi lain, Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengungkapkan stok LPG nasional dalam kondisi terjaga. Dia mencatat stok LPG per Selasa (14/4/2026) berada di sekitar 11 hari.

Adapun, stok minimum LPG nasional yang ditetapkan ESDM berada di sekitar 11,4 hari.

Laode mengatakan bahwa penyebab kelangkaan produk migas umumnya terjadi gegara aktivitas panic buying atau pembelian dalam jumlah besar dalam satu waktu. Lalu, kelangkaan juga dapat terjadi gegara gangguan transportasi dan bencana alam.

“Stok per jenis komoditas berbeda beda tapi semua dalam kondisi aman. Khusus untuk LPG data kemarin stok 11 hari,” kata Laode kepada Bloomberg Technoz, Rabu (15/4/2026) malam.

“Kami mengimbau menggunakan bahan bakar secara wajar dan bijak, tidak panic buying,” tegas Laode.

Laode juga memastikan kontrak pembelian LPG Indonesia dari luar negeri dalam kondisi terjaga. Laode juga memastikan pemerintah terus berupaya mendatangkan pasokan LPG dari berbagai sumber dalam waktu cepat.

Lain sisi, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun menegaskan stok LPG perseroan terus dijaga agar dapat mencukupi kebutuhan masyarakat.

Roberth juga mengimbau agar masyarakat dapat menggunakan komoditas energi secara bijak dan melaksanakan penghematan energi.

“Kalau dari Pertamina stok kita jaga agar cukup dan Gerakan Hemat Energi terus digaungkan,” ungkap Roberth ketika dihubungi, Rabu (15/4/2026) malam.

Sekadar informasi, Ditjen Migas Kementerian ESDM menginstruksikan kilang LPG swasta untuk mengalihkan penjualan LPG industri menjadi dijual ke PT Pertamina Patra Niaga.

Nantinya, LPG yang dijual ke PPN tersebut bakal dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. 

Berdasarkan data Ditjen Migas, kebutuhan LPG sepanjang Januari—Februari 2026 mencapai 26.000 metrik ton per hari.

Secara keseluruhan, sepanjang periode tersebut kebutuhan LPG mencapai 1,56 juta metrik ton. Dari besaran itu, sekitar 1,31 juta ton atau 83,97% pasokan LPG didapatkan dari impor dan produksi dalam negeri hanya sebesar 130.000 metrik ton.

(azr/wdh)

No more pages