Padahal, berdasarkan model perhitungan Behavioral Equilibrium Exchange Rate (BEER) yang dilakukan tim strategis Bloomberg Intelligence, rupiah undervalued sebesar 8,4%.
Strategis valas Bloomberg Stephen Chiu dan Chunyu Zhang dalam laporannya menyebut nilai wajar rupiah berada di Rp15.668/US$, per 10 April 2026.
"Jika dibandingkan dengan rata-rata nilai tukar dalam 10 tahun terakhir sebesar Rp14.716/US$, maka tingkat undervalued itu bahkan mencapai 13,9%," sebut Stephen Chiu dan Chunyu Zhang dalam laporannya.
Sebagai catatan, model BEER mengukur nilai keseimbangan (nilai wajar) jangka menengah hingga panjang suatu mata uang dengan menganalisis variabel-variabel makroekonomi secara statistik.
Faktor Penekan Rupiah
Tekanan yang terjadi pada rupiah merupakan cerminan dari sentimen pasar. Bloomberg Intelligence menyebut hasil regresi menunjukkan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditentukan oleh arus investasi, lalu disusul oleh selisih imbal hasil.
Artinya, ketika kepercayaan investor melemah, tekanan terhadap rupiah jadi kian membesar.
"Kepercayaan investor masih lemah, di tengah kekhawatiran terhadap disiplin fiskal dan risiko penurunan peringkat, kemungkinan berkontribusi pada kesenjangan undervalued tersebut, bersamaan dengan penguatan dolar AS secara luar sejak konflik Iran dimulai," tulis Stephen Chiu dan Chunyu Zhang, Strategis valas Bloomberg Intelligence, dalam catatannya.
Hal ini mengindikasikan bahwa tekanan terhadap rupiah bukan semata datang dari sisi eksternal, tetapi juga terkait kredibilitas kebijakan domestik. Kekhawatiran terhadap disiplin fiskal dan potensi penurunan peringkat utang jadi faktor yang terus menghantui persepsi investor.
Di tengah kondisi ini, pemulihan terhadap rupiah tak bisa hanya bergantung intervensi bank sentral sebagai otoritas moneter. Intervensi itu memang tetap dibutuhkan, tetapi tidak cukup.
"Di luar potensi pembalikan penguatan dolar AS dan membaiknya sentimen risiko, intervensi valas yang berkelanjutan oleh Bank Indonesia, bersama dengan arah fiskal domestik yang lebih kuat, kemungkinan akan dibutuhkan untuk menopang rupiah," tulis Chiu dan Zhang dalam laporannya.
Artinya, stabilitas rupiah membutuhkan kombinasi respons jangka pendek dan reformasi jangka menengah. Intervensi valas memang bisa meredam volatilitas, akan tetapi sepertinya hanya penguatanan kredibilitas fiskal yang mampu mengembalikan kepercayaan investor secara berkelanjutan.
(dsp)



























