Keluhan Smelter Soal Kenaikan HPM Nikel: Operasional Kian Berat
Azura Yumna Ramadani Purnama
16 April 2026 11:40

Bloomberg Technoz, Jakarta – Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) menyayangkan dan keberatan atas keputusan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merevisi formula perhitungan Harga Patokan Mineral (HPM) bijih nikel, sebab aturan tersebut membuat harga bijih melonjak ketika industri smelter nikel sedang mengalami tekanan.
Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusumah mengatakan saat ini industri smelter nikel di Indonesia sedang menghadapi tekanan akibat melonjaknya harga sulfur gegara konflik di Timur Tengah, kenaikan biaya energi, serta melonjaknya harga logistik.
Dengan begitu, Arif menyatakan kenaikan HPM bakal makin menambah beban yang dipikul oleh industri smelter, terlebih terdapat wacana pengenaan bea keluar terhadap produk olahan nikel.
“Jika bahan baku bijih nikel telah dinaikkan harganya melalui HPM, sementara produk hilir rencananya akan dikenakan bea keluar, maka industri hilir akan terbebani dari dua sisi sekaligus dan berpotensi memperlambat hilirisasi Indonesia,” kata Arif melalui keterangan tertulis, Kamis (16/4/2026).
“Kebijakan yang melemahkan industri dalam jangka pendek justru akan mengurangi total penerimaan negara secara kumulatif dalam jangka panjang,” lanjut dia.





























