Logo Bloomberg Technoz

Tensi geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat-Israel juga memberikan efek domino pada harga pupuk berbahan dasar urea dan amonia, serta kenaikan biaya logistik akibat tarif angkut yang membengkak.

“Pupuk juga meningkat, karena pupuk itu kan urea dan amonia juga tergantung dengan gas dan minyak,” kata Tet Fa .

Guna memitigasi risiko pembengkakan biaya produksi lebih lanjut di masa depan, AALI merespons dengan mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (Capex) yang agresif pada tahun ini. 

Perseroan menganggarkan Capex sebesar Rp1,4 triliun untuk tahun 2026. Angka ini melonjak signifikan sebesar 79% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan realisasi tahun 2025 yang tercatat sebesar Rp782 miliar.

Manajemen merinci, mayoritas dana tersebut atau sekitar 63,8% akan dialokasikan untuk sektor perkebunan (plantation), termasuk agenda penanaman kembali (replanting).

Langkah ini diambil untuk memastikan produktivitas tanaman tetap optimal di tengah beban input produksi yang mahal.

"Capex tahun 2026 mayoritas dialokasikan untuk plantation sebesar 63,8%. Lalu untuk mill (pabrik) dan port sebesar 19,8%, serta sektor non-plantation untuk pengadaan kendaraan angkut dan aset pendukung lainnya sebesar 16,4%," jelas manajemen.

Alokasi pada kendaraan angkut dan infrastruktur pendukung ini menjadi krusial, mengingat kenaikan biaya logistik merupakan salah satu dampak langsung dari krisis energi saat ini.

Dengan memiliki infrastruktur angkut yang lebih mumpuni, perseroan berharap dapat mengontrol efisiensi operasional dengan lebih baik.

Laba AALI

AALI mencatat laba bersih sebesar Rp1,47 triliun sepanjang 2025. Torehan laba bersih itu lompat 28,3% dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,14 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan yang berakhir Desember 2025, AALI mencatat pendapatan bersih sebesar Rp28,65 triliun. Posisi pendapatan itu naik 31,5% dibandingkan dengan pendapatan sepanjang 2024 sekitar Rp21,81 triliun.

Lonjakan pendapatan itu ditopang oleh penjualan minyak sawit mentah dan turunannya sebesar Rp25,52 triliun sepanjang 2025. Sementara itu, pendapatan dari pos yang sama pada tahun sebelumnya berada di level Rp20,18 triliun.

Di sisi lain penjualan inti sawit dan turunannya mencapai Rp3,12 triliun dan penjulan lainnya mencapai Rp10,92 miliar sepanjang 2025.

Adapun, penjualan dengan porsi mencapai 12,02% atau sekitar Rp3,45 triliun dilakukan kepada Olam Global Agri Pte. Ltd.

Sementara itu, beban pokok pendapatan AALI sepanjang 2025 bergerak ke level Rp24,02 triliun, naik 30% dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya sebesar Rp18,47 triliun.

Setelah dikurangi beban, AALI mencatat laba bruto pada 2025 sebesar Rp4,63 triliun, relatif lebih tinggi dari posisi laba bruto tahun sebelumnya sebesar Rp3,34 triliun.

Emiten sawit grup Astra itu mencatat total liabilitas sampai periode yang berakhir Desember 2025 sebesar Rp2,88 triliun, berasal dari liabilitas jangka pendek Rp2 triliun dan jangka panjang Rp889,11 miliar.

Di sisi lain, posisi ekuitas AALI bergerak ke level Rp24,15 triliun pada akhir Desember 2025.

Selain itu, total aset AALI mencapai Rp27,04 triliun sepanjang 2025, berasal dari aset tidak lancar Rp18,38 triliun dan aset lancar Rp8,66 triliun.

(fik/naw)

No more pages