Produsen smartphone global OEM lantas memilih mengetatkan biaya, mengerem anggaran marketing juga saluran distribusi, serta menyunat spesifikasi HP seri-seri terbaru. Respons ini tentunya disadari bakal memicu pelemahan dari sisi pertumbuhan.
“Tahun kalender ini mewakili titik balik kritis bagi pemasok HP untuk melakukan transformasi, karena kenaikan biaya komponen, energi, dan logistik akibat perang baru-baru ini di Timur Tengah memperparah risiko penurunan di pasar,” papar dia.
Secara real angka pengiriman smartphone global periode Januari hingga Maret tercatat 289,7 juta unit, dengan dua produsen paling besar dunia yaitu Samsung Electronic dan Apple tetap bersaing ketat, disusul oleh Xiaomi.
Samsung mengapalkan 62,8 juta unit, naik 3,6% yoy dengan pangsa pasar terkini di 21,7%. Apple meraih 61,1 juta unit dan pangsa pasarnya 21,1%. Data pengiriman iPhone perusahaan asal Amerika Serikat ini tumbuh 3,3%. Samsung dan Apple, yang punya keunggulan pada segmen pasar premium, masih memiliki daya tawar lebih tinggi terhadap suplier memori.
Hal ini menjadikan “mereka berada dalam posisi yang lebih baik untuk mengatasi krisis ini dan merebut pangsa pasar,” tulis IDC, dimana terdapat keadaan terkini memperlihatkan pergeseran ke segmen harga lebih tinggi mengimbangi kenaikan biaya atau bill of materials (BOM). Produsen yang menyandarkan pangsa pasar HP-nya di kelas entry-level juga menghadapi tekanan biaya yang sama, bahkan lebih intens.
Sementara, Xiaomi meski ada di peringkat ketiga data shipment terbanyak sekitar 33,8 juta namun turun 19% yoy. Pangsa pasar Xiaomi terjaga di 11,7%. OPPO mengapalkan 30,7 juta unit, turun 9,9% yoy. vivo di peringkat kelima dengan 21,2 juta unit HP dikirim, juga melemah 6,8% yoy.
Counterpoint Research belum lama juga mengugkap data pengiriman HP yang melemah, dengan tekanan tambahan berasal dari biaya logistik efek dari memanasnya perang antara Amerika Serikat dan Iran di sekitar Selat Hormuz.
(mef/wep)































