Logo Bloomberg Technoz

“Dampak daripada kenaikan BBM ini sungguh amat luar biasa terutama di rantai pasok, di biaya material, terutama di aspal, semen, beton. Karena kunci di BBM ini akan semua berpengaruh terutama di logistiknya,” kata dia.

Dia mencatat bahwa dampak konflik global dalam beberapa waktu terakhir telah menekan sektor konstruksi hingga 5%–10%. Jika harga minyak dunia terus naik, tekanan terhadap industri diperkirakan semakin berat.

“Kalau sudah harga BBM per barel itu sudah bisa sampai angka 98 ke atas, itu pasti dampaknya luar biasa,” ucapnya.

Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah turut memperburuk kondisi. Ia menyebut kurs saat ini juga telah menyentuh di atas Rp17.000/US$, dan berpotensi melemah lebih lanjut hingga Rp17.500/US$, yang akan semakin membebani biaya proyek.

Di lapangan, kenaikan harga material sudah terasa nyata, terutama di wilayah timur Indonesia. “Contoh saya dari Papua kemarin harga semen sudah Rp500 ribu per sak, belum BBM-nya,” kata dia.

Untuk mengantisipasi kerugian yang lebih besar, GAPENSI meminta pemerintah segera menerapkan mekanisme eskalasi harga dalam proyek konstruksi, terutama untuk tender yang belum dikontrak.

Dengan kata lain, mereka meminta agar pemerintah turut mengubah patokan harga proyek tender yang menyesuiaikam dengan kondisi saat ini.

“Maka kita meminta agar harga tender ini kalau memang belum kontrak dikasih kesempatan untuk dilakukan eskalasi, disesuaikan harganya dengan kondisi yang ada sekarang, sehingga pengusaha juga tidak mengalami kerugian yang sangat drastis,” tegasnya.

GAPENSI, kata dia, juga mendorong agar proyek-proyek infrastruktur tidak hanya didominasi oleh BUMN, melainkan memberi ruang lebih besar bagi swasta nasional dan pelaku usaha kecil menengah.

Tanpa penyesuaian harga dan pemerataan proyek, pelaku usaha konstruksi—terutama UMKM—berisiko kehilangan pekerjaan hingga akhirnya gulung tikar.

“Kalau pakai swakelola pada akhirnya nanti misalnya kepada BUMN kita menjadi subkon-subkon, pembayarannya tidak jelas. Cepat atau lambat ini akan terjadi, karena kita tidak dikasih kesempatan untuk dapatkan pekerjaan."

Meski belum ada laporan perusahaan konstruksi yang tutup, GAPENSI menilai risiko tersebut dapat terjadi dalam waktu dekat jika tekanan biaya terus berlanjut dan tidak diimbangi kebijakan yang adaptif dari pemerintah.

(ibn/ros)

No more pages