Selain itu, kata dia, penguatan kepercayaan tersebut juga harus dibarengi dengan tata kelola yang baik, termasuk memastikan bantuan internasional tidak disalahgunakan.
"Jadi mengembalikan kepercayaan pada rupiah dan ini yang paling utama,” tegasnya.
Pada masa krisis, menurut dia, tekanan terhadap rupiah terjadi sebagia imbas dari derasnya arus keluar devisa. Banyak pihak memborong dolar AS sehingga cadangan devisa terkuras dan perbankan kekurangan likuiditas valas.
Untuk menahan pelemahan lebih lanjut, pemerintah saat itu menggandeng lembaga internasional seperti International Monetary Fund, World Bank, dan Asian Development Bank guna mendapatkan dukungan devisa.
“Dalam waktu satu setengah tahun Rupiah itu bisa kembali menjadi Rp8.000–Rp7.000 dari tadinya Ro16.000,” katanya. "Mereka harus percaya bahwa bantuan mereka nggak dikorupsi, jadi harus transparan. Karena acap kali dicurigai bahwa bantuan orang itu dikorupsi."
(lav)





























