Sementara itu, Pertamax Turbo atau RON 98 memiliki stok 38.698 kl dengan penyaluran 832 kl per hari, sehingga ketahanan stok mencapai 46,5 hari, jauh di atas batas minimum 22,3 hari.
Lebih lanjut, pada BBM jenis Solar atau CN 48, stok nasional tercatat 1.575.287 kl dengan penyaluran harian 95.638 kl, menghasilkan ketahanan stok 16,5 hari. Stok Solar CN 48 tersebut tercatat di atas batas minimum 16,3 hari.
Pertamina Dex atau CN 53 memiliki stok 71.833 kl dengan penyaluran 1.113 kl per hari dan ketahanan stok mencapai 64,5 hari, jauh di atas batas minimum 24,9 hari.
“Kondisi stok BBM yang khusus untuk gasoil [solar] dan gasoline [bensin] ini memang pergerakannya sangat dinamis karena kebutuhan masyarakat,” ujar Wahyudi.
“Serta untuk keseimbangan stok yang terjaga, kami sudah konfirmasi dengan Pertamina Grup bahwasannya kilang, tetap produksi normal, tidak ada kegiatan-kegiatan maintenance, sehingga posisi fluktuatif ini terus terjaga dengan baik dan kondisinya memang sangat aman,” lanjut dia.
Untuk avtur, stok nasional tercatat 388.626 kl dengan penyaluran 13.816 kl per hari, sehingga ketahanan stok mencapai 28,1 hari, melampaui batas minimum 26 hari.
“Kemudian khusus uptour, ini juga stoknya, ketahanan stoknya 28,1 hari. Jadi bisa kita simpulkan ketahanan stok BBM nasional dalam kondisi aman,” tegasnya.
Adapun, saat ini stok operasional BBM nasional diklaim berada di level 21—23 hari. Sementara itu, kapasitas penyimpanan minyak mentah nasional, diklaim memiliki kemampuan untuk menampung stok selama 25 hari.
Berdasarkan data DEN dan BPH Migas, komposisi impor minyak mentah Indonesia pada 2025 berasal dari berbagai negara mitra sehingga sumbernya terdiversifikasi.
Antara lain Nigeria sebesar 34,07 juta barel atau sekitar 25%, Angola sebesar 28,5 juta barel atau 21%, Arab Saudi sebesar 25,36 juta barel atau sekitar 19%, Brasil 9%, Australia 8%, serta sejumlah negara lainnya seperti Gabon, Amerika Serikat (AS), dan Malaysia.
Untuk impor BBM, berdasarkan data Kementerian ESDM, pada 2025 Indonesia tercatat mengimpor BBM paling banyak dari Singapura dan Malaysia.
Terdapat negara lainnya yang turut menjadi sumber impor BBM RI, antara lain China, Korea Selatan, Oman, Uni Emirat Arab (UEA), India, Mesir, Jepang, dan Taiwan.
Sekadar informasi, anggota komite BPH Migas Fathul Nugroho melaporkan saat ini kapasitas penyimpanan BBM nasional mencapai 9,16 juta kiloliter.
Dia menjelaskan, dari besaran itu, sebanyak 67% atau 6,1 juta kiloliter di antaranya merupakan milik PT Pertamina (Persero), sementara 33% penyimpanan BBM di RI atau 3,06 juta kiloliter dimiliki non-Pertamina.
Berikut 5 provinsi yang memiliki kapasitas penyimpanan BBM terbesar:
- Jawa Timur sebesar 1,15 juta kiloliter
- Jawa Barat sebesar 950.000 kiloliter
- DKI Jakarta sebesar 910.000 kiloliter
- Kepulauan Riau sebesar 890.000 kiloliter
- Banten sebesar 770.000 kiloliter
(azr/wdh)





























