Logo Bloomberg Technoz

Pendapatan dari ekspor komoditas dinilai dapat membantu menutupi kenaikan biaya energi yang timbul akibat harga minyak yang lebih tinggi.

Selain Indonesia, Malaysia juga diperkirakan memperoleh manfaat serupa dari penerimaan ekspor komoditas yang mampu mengimbangi kenaikan biaya bahan bakar. Dengan kondisi tersebut, tekanan terhadap perekonomian domestik diperkirakan tidak akan sepenuhnya membebani pertumbuhan.

Pertumbuhan Ekonomi  di Asia Timur dan Pasifik

World Bank memandang pertumbuhan ekonomi di China juga diperkirakan turun dari 5,0% pada 2025 menjadi 4,2% pada 2026 dan 4,3% pada 2027, seiring dengan berlanjutnya ketidakpastian permintaan domestik dan tantangan di sektor properti, serta perlambatan global yang menghambat pertumbuhan ekspor. 

Pertumbuhan di bagian lain kawasan ini akan melambat menjadi 4,1% pada 2026 dan diproyeksikan pulih menjadi 5% pada tahun 2027, seiring meredanya ketegangan geopolitik dan berkurangnya ketidakpastian.

“Pertumbuhan di Asia Timur dan Pasifik terus melampaui sebagian besar wilayah dunia, bahkan di masa-masa terjadinya ketidakpastian,” kata Carlos Felipe Jaramillo, Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik dalam siaran pers.

“Namun, untuk mempertahankan tingkat pertumbuhan, negara-negara harus menghadapi tantangan struktural dan memanfaatkan peluang di era digital untuk meningkatkan produktivitas serta menciptakan lebih banyak lapangan kerja.”

Adapun dampak konflik di Timur Tengah bergantung pada ketergantungan masing-masing negara terhadap impor bahan bakar, kerentanan yang ada, dan fleksibilitas kebijakan ekonomi.

Konflik yang berkepanjangan dan semakin intensif dapat semakin memperburuk kondisi ekonomi dan mengurangi pertumbuhan regional. Kenaikan harga bahan bakar sebesar 50% yang terus berlanjut dapat menyebabkan penurunan pendapatan sebesar 3%-4% bagi masyarakat di wilayah ini. 

Dukungan yang terarah,  baik bagi masyarakat berpendapatan rendah dan rentan, maupun usaha kecil dan menengah  dapat membantu masyarakat yang paling membutuhkan tanpa membebani keuangan negara.

“Ketahanan kawasan ini di masa lalu memang luar biasa, namun tantangan saat ini dapat meningkatkan beban ekonomi dan menghambat pertumbuhan produktivitas,” ujar Aaditya Mattoo, Direktur Penelitian Kelompok Bank Dunia. 

“Dukungan yang terukur bagi masyarakat dan perusahaan dapat menyelamatkan lapangan kerja saat ini, sementara menghidupkan kembali reformasi struktural yang tertunda dapat memicu pertumbuhan di masa depan.”

(mfd/ell)

No more pages