Logo Bloomberg Technoz

Setelah pertemuan selama dua jam di Gedung Putih, Rutte pergi tanpa memberikan pernyataan sepatah kata pun kepada wartawan. Namun, dalam wawancara dengan CNN setelahnya, ia mencoba berdiplomasi dengan memuji Trump.

“Ya, memang benar, tidak semua negara Eropa memenuhi komitmen tersebut, dan saya sepenuhnya memahami kekecewaannya,” ujar Rutte, sembari memihak Trump atas negara-negara Eropa seperti Spanyol yang secara terbuka menentang perang dan menolak membantu Amerika.

Meski demikian, Rutte tetap membela "mayoritas besar negara Eropa" yang telah memberikan dukungan pangkalan, logistik, dan izin lintas udara. Ia menyebut ada "dukungan luas" di benua itu untuk melumpuhkan kapasitas nuklir dan rudal balistik Iran, walau mengakui sebagian besar warga Eropa lebih memilih jalur diplomasi.

Rutte mengkritik pendekatan diplomatik tersebut karena dianggap memakan waktu terlalu lama, bahkan membandingkan situasi Iran dengan Korea Utara. Namun, ia menghindar saat ditanya apakah Trump akan benar-benar meninggalkan NATO atau menarik pasukan dari Eropa.

Di sisi lain, Leavitt menyampaikan pesan tegas dari Trump bahwa NATO telah "diuji dan gagal" selama perang AS dan Israel melawan Iran berlangsung.

“Sangat menyedihkan bahwa NATO memunggungi rakyat Amerika selama enam minggu terakhir, padahal rakyat Amerikalah yang mendanai pertahanan mereka,” tegas Leavitt.

Secara hukum, menarik AS keluar dari NATO bukanlah perkara mudah. Undang-undang tahun 2023 yang diperjuangkan Marco Rubio—yang kini menjabat Menteri Luar Negeri Trump—mencegah presiden menghentikan traktat NATO kecuali disetujui oleh dua pertiga mayoritas Senat atau melalui undang-undang baru dari Kongres.

Melihat peta politik saat ini, hal itu hampir mustahil terjadi. Partai Republik yang pro-aliansi kemungkinan besar akan bergabung dengan Demokrat untuk menggagalkan langkah tersebut. Apalagi, Partai Republik hanya memegang mayoritas tipis di kedua majelis.

Namun, Trump tetap memiliki kekuatan untuk melemahkan peran AS di NATO. Sebagai mitra yang sangat krusial, AS menempatkan 80.000 personel di Eropa dan memegang peran sentral dalam pertahanan rudal, pencegahan nuklir, serta berbagi intelijen.

“Langkah-langkah alternatif seperti pengurangan jumlah pasukan atau pemotongan pendanaan dapat mengikis partisipasi AS tanpa perlu keluar secara formal dari perjanjian,” tulis catatan dari Bloomberg Intelligence.

(bbn)

No more pages