Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Bayangi IHSG Meski Ada Sentimen FTSE & Gencatan AS-Iran

Redaksi
08 April 2026 08:40

Warga melintas di depan layar pergerakan harga saham (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (29/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Warga melintas di depan layar pergerakan harga saham (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (29/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Keputusan FTSE Russell dan gencatan senjata antara AS-Iran dua pekan ke depan belum menjadi jaminan IHSG kembali masuk fase bullish. Indeks masih dibayangi oleh melemahnya nilai tukar rupiah.

Seperti diketahui, FTSE memutuskan untuk tetap mempertahankan status Indonesia dalam kategori Secondary Emerging Market.

Pagi tadi juga muncul kabar, Presiden AS Donald Trump menyepakati gencatan senjata dengan Teheran, setelah sebelumnya mengancam akan membinasakan peradaban Iran.


"Posisi nilai tukar RUPIAH merupakan yang terburuk sejak krisis moneter 1998, telah menyentuh angka Rp17.105/dolar AS, dengan demikian menyumbangkan sentimen suram bagi pergerakan pasar walau sentimen regional dan tensi geopolitik global sedikit mereda," jelas Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia, Rabu (8/4/2026). 

Masih besarnya potensi volatilitas IHSG juga tercermin dari sisi teknikal IHSG yang belum mampu bertahan di atas level psikologis 7000 walau High intraday sempat menyentuh 7022, akhirnya selesai pada angka 6971,02 kemarin, terkikis 18,4 poin atau setara 0,26%, terbebani oleh net sell Rp1.78 triliun dan paling besar diseret turun oleh sektor Industrial.