Di sisi lain, Tri mengungkapkan campuran FAME yang cukup tinggi tersebut juga membuat B50 lebih mudah menyerap uap air dari udara sebab bersifat higroskopis. Lalu, bahan bakar nabati tersebut mudah bereaksi dengan oksigen di udara.
Lebih lanjut, Tri mencatat densitas biodiesel lebih tinggi dibandingkan dengan solar, sehingga jika disimpan dalam jangka waktu panjang maka dua campuran tersebut bakal terpisah.
Jika biodiesel dan solar terpisah serta memiliki kadar air tinggi, bahan bakar nabati tersebut berpotensi membuat mesin menjadi bermasalah dan konsumsi bahan bakar lebih boros.
“Seperti filter dan injektor tersumbat lebih cepat, terjadi penurunan daya dan kenaikan konsumsi BBM lebih cepat, kehausan pada komponen mesin yang bergerak relatif dan dilumasi oleh BBM akan haus lebih cepat yang juga akan menyebabkan penurunan kinerja,” papar Tri.
“Dengan kata lain biaya untuk maintenance akan meningkat drastis,” tegasnya.
Dampak ke Mesin
Dihubungi terpisah, Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu mengungkapkan jika biodiesel B50 tak disimpan secara baik, maka kualitasnya bakal menurun dan sangat berdampak negatif bagi mesin.
Dia menjelaskan kondisi tersebut bisa menyebabkan terbentuknya sludge atau endapan yang menyumbat filter bahan bakar dan deposit di injektor akibat kontaminasi air serta kotoran.
Yannes mengungkapkan kondisi tersebut dapat membuat pembakaran menjadi tidak sempurna, tenaga mesin turun, konsumsi bahan bakar meningkat, dan dalam kondisi ekstrem bisa menyebabkan mesin mogok.
Tak hanya itu, B50 dengan kualitas buruk memiliki sifat asam yang dapat teroksidasi sehingga mempercepat korosi pada komponen logam. Lalu, sifat pelarut FAME juga bisa memengaruhi seal karet atau elastomer di sistem bahan bakar yang menyebabkan swelling hingga cracking.
“Mesin modern [common rail] biasanya lebih sensitif dibanding mesin lama, meski dampak jangka panjang masih terus dievaluasi melalui uji coba saat ini,” kata Yannes ketika dihubungi.
Sekadar informasi, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengumumkan bahwa pemerintah akan menerapkan B50 pada 1 Juli 2026.
Hal ini merupakan salah satu poin dari 8 butir transformasi budaya kerja nasional, dalam merespons gejolak harga minyak dunia dampak dari perang di Timur Tengah.
"Sebagai bagian dari upaya kemandirian energi dan efisiensi energi, pemerintah menerapkan kebijakan B50. Ini mulai berlaku 1 Juli 2026," kata Airlangga dalam konferensi pers, Selasa (31/3/2026) malam.
Di sisi lain, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyebut progres tes uji jalan atau road test kendaraan menggunakan biodiesel B50 sudah mencapai 15.000 kilometer (km) per akhir Januari 2026.
Eniya mengungkapkan hasil evaluasi tersebut akan menjadi landasan untuk menentukan waktu implementasi mandatori B50.
“Road test otomotif baru sampai 15.000, ini kita mau review,” kata Eniya saat ditemui di Kompleks Parlemen, medio Januari 2026.
Dia menyatakan jika nantinya mandatori B50 diimplementasikan, terdapat beberapa penyesuaian skema penetapan alokasi kuota biodiesel.
Misalnya; kuota B40 digunakan seluruhnya tanpa perubahan, kuota untuk sektor non-public service obligation (PSO) dinaikkan, atau kuota non-PSO disesuaikan.
(azr/wdh)




























