Logo Bloomberg Technoz

Belakangan, KAEF mencatat rugi usaha sebesar Rp79,75 miliar pada 2025. Posisi rugi itu makin lebar ditekan sejumlah pos beban keuangan, dan pajak.

Di sisi lain, KAEF mencatat rasio utang berbunga terhadap ekuitas atau atau liability interest bearing to equity ratio sebesar 229,18%.

Rasio itu relatif naik dari rasio pada 2024 sebesar 211,6% imbas berkurangnya posisi ekuitas kendati utang ikut susut secara tahunan.

Perinciannya, jumlah utang berbunga sebesar Rp6,61 triliun berasal dari utang bank, pinjaman pemegang saham, liabilitas sewa dan obligasi wajib konversi.

Sementara itu, jumlah ekuitas PTBA sebesar Rp2,88 triliun, susut 15,79% dibandingkan dengan posisi ekuitas tahun sebelumnya di level Rp3,42 triliun.

Suntikan Pinjaman

Sebelumnya, KAEF mendapat pendanaan segar Rp846 miliar dari PT Bio Farma (Persero) lewat skema pinjaman pemegang saham atau shareholder loan (SHL).

Pinjaman pemegang saham itu disalurkan ke KAEF pada 31 Desember 2025. Rencanannya, dana itu akan digunakan untuk modal kerja, pelunasan kewajiban operasional, serta kewajiban perbankan guna mendukung keberlangsungan usaha perseroan.

“Pinjaman pemegang saham atau SHL dari PT Bio Farma (Persero) kepada perseroan dengan nilai Rp846 miliar,” tulis manajemen KAEF dalam keterbukaan informasi, Selasa (6/1/2026).

Suntikan dana ini diberikan di tengah kondisi liabilitas Kimia Farma yang relatif tinggi. Hingga September 2025, total liabilitas KAEF tercatat sebesar Rp11,71 triliun, terdiri atas Rp6,98 triliun liabilitas jangka pendek dan Rp4,73 triliun liabilitas jangka panjang.

Porsi terbesar berasal dari utang bank yang nilainya mencapai lebih dari Rp5,5 triliun.

Dalam skema SHL tersebut, Kimia Farma juga memberikan jaminan senilai Rp775,2 miliar berupa aset tanah, bangunan, piutang, dan persediaan.

Nilai jaminan tersebut setara dengan 120% dari Rp646 miliar, atau sekitar 25,69% dari nilai kekayaan bersih perseroan.

Manajemen KAEF menjelaskan fasilitas pinjaman ini merupakan bagian dari Rencana Restrukturisasi Perusahaan (RRP) yang disusun untuk menjaga stabilitas keuangan sekaligus mendukung pertumbuhan bisnis ke depan.

Perseroan mengakui saat ini masih menghadapi tantangan dalam pengelolaan modal kerja, terutama untuk menjaga keseimbangan antara likuiditas dan profitabilitas di tengah kenaikan suku bunga pinjaman.

“Perseroan telah melakukan pengelolaan modal kerja dan adanya kenaikan suku bunga pinjaman merupakan tantangan lain yang signifikan bagi Perseroan,” kata manajemen.

(naw)

No more pages