Logo Bloomberg Technoz

Gangguan distribusi global, terutama di jalur strategis seperti Selat Hormuz. Selat tersebut menjadi jalur 70% alur pasokan distirbusi nafta global.
 
"Sebenarnya 10 hari sebelum Lebaran kita sudah kasih tahu, bahwa H+10 pasti nanti akan ada sesuatu yang harus kita hitung bersama. 20 hari tidak ada pengiriman, sementara tensi Iran-Israel dan Amerika masih tinggi, bahkan Selat Hormuz juga tertutup," ujarnya saat dihubungi akhir pekan lalu.

Fajar mengatakan, dalam rantai industri plastik, nafta memegang peran vital sebagai bahan baku utama industri petrokimia hulu. Bahan baku tersebut nantinya menghasilkan olefin; seperti etylene dan propylene yang akan menjadi resin.

Indonesia, kata dia, sangat bergantung terhadap pasokan impor nafta hingga 100% dari kebutuhan domestik. 

"Jadi ketika ada gangguan di Selat Hormuz—yang menjadi jalur 70% pasokan—volume menjadi tidak bisa diprediksi ada atau tidaknya," kata Fajar.

"Ini tidak hanya di Indonesia, seluruh dunia mengalami hal yang sama," imbuhnya.

Data Impor Plastik RI

Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), sejak 2019 hingga 2023 nilai impor plastik dan barang dari plastik menunjukkan pertumbuhan, puluhan hingga ratusan juta kilogram per periode.

Per Juni 2024, misalnya, volume impor sekitar 90,98 juta kg dengan nilai sekitar US$202,11 juta. Kemudian, pada September 2024 BPS mencatat kenaikan tajam impor plastik sebesar +21,33 % yoy dengan nilai mencapai US$0,92 miliar dan berat 0,56 juta ton, menempatkan plastik sebagai salah satu komoditas impor non‑migas utama Indonesia.

Data terbaru BPS tahun 2026 menunjukkan nilai impor plastik dan barang dari plastik diperkirakan mencapai sekitar US$949,2 juta pada Januari 2026. Angka ini meningkat sekitar 5,9 % yoy jika dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada Februari 2026, angka ini tercatat US$873,2 juta, dengan kontribusi signifikan dari negara pemasok utama seperti China, Thailand, dan Korea Selatan.

Pekerja merapihkan wadah plastik di salah satu ritel modern di Jakarta Selatan, Rabu (1/4/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Masuk Survival Mode-Diversifikasi Terhambat Jalur

Fajar meyakinkan tingginya harga plastik karena saat ini industri hulu petrokimia domestik beroperasi dalam kondisi terbatas. Dengan kata lain, dia memastikan produksi tetap berjalan dengan utilisasi yang terbatas.

Fokus Utama untuk tetap bertahan, kata dia, adalah menjaga suplai minimum bagi industri hilir dalam negeri yang sangat bergantung terhadap bahan baku tersebut, seperti plastik hingga kemasan.

"Kita sekarang dalam kondisi survival mode, di mana status operasi di minimum capacity yang secara ekonomi masih masuk untuk memenuhi kebutuhan lokal," kata dia.

Fajar enggan mengungkapkan secara rinci besaran penurunannya, mengingat kondisi yang sangat dinamis dan sulit dipetakan secara pasti. Dia menegaskan, fokus utama saat ini bukan pada angka, melainkan pada kemampuan industri untuk tetap menjaga pasokan.

Industri petrokimia, kata dia, sesungguhnya telah menyiasati terhambatnya pasokan dengan melakukan diversifikasi pasar pasokan nafta selain Timur Tengah. Kawasan tersebut adalah Afrika, Asia Tengah, hingga Amerika.

Namun, langkah tersebut tetap menimbulkan tantangan baru; biaya logistik yang semakin besar dan memakan waktu distribusi yang semakin lama. 

"Kalau dari middle east ke Indonesia itu 10–15 hari. Tapi dari luar bisa sampai 50 hari. Ini yang sedang kita kejar, mencari pola supply-chain baru," kata dia.

Industri Mamin

Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman mengatakan dampak mulai terasa pada kenaikan harga kemasan yang saat ini telah naik hingga 60%.

"Ini sangat berpengaruh terhadap ketersediaan kemasan plastik. Nah ini yang mengakibatkan harga melonjak dan di pasar, khususnya pasar ritel, itu untuk yang kemasan-kemasan yang siap jual itu kenaikan bisa  50-60%," ujarnya saat dihubungi, Selasa (31/3/2026) lalu.

Adhi mengatakan, kenaikan tersebut tidak lain disebabkan oleh produsen bahan baku atau industri hulu plasik yang mayoritas berasal dari wilayah Timur Tengah kini mulai mengurangi produksi dan hambatan pengiriman.

Industri tersebut meliputi produsen seperti Polietilena (PE), Polipropilena (PP), hingga (Linear Low-Density Polyethylene), yang tak lain adalah produk midstream dari petrokomia.

Mereka, kata Adhi, bahkan telah menurunkan produksi hingga 30% dari produksi normal harian. "Dan yang lebih berat lagi sebenarnya ketersediaannya. Ada beberapa produsen yang sudah menyatakan tidak bisa, tidak sanggup memasok karena tidak ada bahan baku plastiknya," tutur Adhi.

Waspada Sektor Otomotif

Di sektor otomotif, PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) mewanti-wanti kelangkaan bahan baku plastik akan mengganggu produksi, termasuk otomotif.

"Sektor otomotif kan pasti membutuhkan plastik. Bukan hanya otomotif, sektor-sektor lain seperti makanan dan minuman itu banyak menggunakan plastik. Jadi saya berharap bahwa kelangkaan bahan baku plastik ini jangan sampai mengganggu produksi," ujar Wakil Presiden Direktur TMMIN Bob Azam, Minggu (5/4/2026).

Pemudik bersepeda motor melintas di jalan Inspeksi Kalimalang, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (18/3/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bob menyoroti pentingnya menjaga kelancaran rantai pasok, terutama terkait bahan baku. Oleh karena itu, dia meminta hal tersebut untuk segera diatasi agar tak menambah hambatan bagi industri yang lebih luas.

Meski demikian, dia juga menggarisbawahi bahwa hambatan dan tantangan tersebut mampu menjadi momentum bagi industri untuk mendorong inovasi, termasuk dalam mencari alternatif bahan baku maupun meningkatkan efisiensi penggunaan material.

- Dengan Asistensi Merinda Faradianti dan Andre Kristianto

(ain)

No more pages