“Ini terjadi karena produktivitas meningkat dan harga ikan menjadi lebih baik berkat kualitas yang terjaga dan akses pasar lebih luas,” kata Qodari.
Dia berharap keberhasilan KNMP di Biak ini bisa menjadi benchmark untuk KNMP di daerah-daerah lain. Paling tidak, keberadaan KNMP mampu meningkatkan produktivitas perikanan antara 100 persen hingga 200 persen pada setiap lokasi KNMP yang sudah beroperasi secara penuh.
Di lapangan, para nelayan merasakan langsung manfaat dari kehadiran fasilitas modern yang dibangun melalui program ini.
“Kehadiran fasilitas modern seperti pabrik es, gudang beku (cold storage), dan dermaga yang terintegrasi sangat membantu nelayan dalam menjaga kualitas kesegaran ikan hasil tangkapan serta mempermudah proses distribusi tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke pusat kota,” kata Abraham Sen, nelayan setempat.
Hal senada disampaikan Artisan, nelayan lainnya. Menurut dia, program KNMP membawa perubahan signifikan bagi kehidupan masyarakat pesisir dimana peningkatan pendapatan naik menjadi dua kali lipat dari sebelumnya.
“Program ini memberikan dampak nyata terhadap taraf hidup masyarakat pesisir, yang dibuktikan dengan kenaikan pendapatan bulanan nelayan hingga dua kali lipat dibandingkan saat masih menggunakan sarana tradisional, sehingga mampu menjamin stabilitas ekonomi keluarga secara berkelanjutan,” ujarnya.
Program KNMP diproyeksikan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 27.000 orang. Terdiri atas 20.000 orang tenaga kerja non-permanen (konstruksi) dan 7.000 orang tenaga kerja permanen (penempatan di cold storage, mobil pengangkut, pabrik es, galangan kapal, tambatan kapal, kios perbekalan, SPBN, sentra kuliner, dan pengurus koperasi serta nelayan).
Program KNMP sudah memasuki tahap kedua pembangunan. Pada tahap pertama yang dimulai pada September 2025, telah terbangun 65 KNMP di 60 kabupaten/kota di 25 provinsi. Hingga 30 Maret 2026, progres pembangunannya mencapai 99,23 persen.
Pada tahap kedua yang dimulai pada Desember 2025, pembangunan KNMP dilakukan di 35 desa/kelurahan di 35 kabupaten/kotq di 17 provinsi. Hingga 30 Maret 2026, progres pembangunannya mencapai 16,68 persen dan ditargetkan selesai pada Mei 2026.
Tahun 2026, Pemerintah menargetkan lonjakan besar pembangunan sebanyak 1.000 KNMP.
(red)






























