Bahkan jika konflik berakhir sesuai jadwal yang diinginkan Trump, pemulihan arus distribusi normal melalui Selat Hormuz diprediksi akan memakan waktu lama. Beberapa infrastruktur energi dilaporkan mengalami kerusakan akibat perang dan membutuhkan perbaikan jangka panjang. Selain itu, penumpukan pasukan AS di kawasan tersebut terus membuat pasar tetap waspada.
Pada Rabu, melalui jejaring sosial Truth Social, Trump mengeklaim bahwa Teheran telah meminta gencatan senjata. Namun, pihak Iran membalas dengan menyatakan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali hanya berdasarkan "pernyataan tidak masuk akal" pemimpin AS tersebut. Iran menegaskan bahwa masa depan jalur transit utama itu akan diputuskan oleh Iran dan Oman.
"Iran sangat kecil kemungkinannya untuk menyetujui gencatan senjata sementara jika hal itu hanya membuka pintu bagi putaran konflik di masa depan," ujar Will Todman, pengamat senior di Center for Strategic and International Studies. "Rezim Iran merasa waktu berpihak pada mereka—semakin lama mereka memblokir Selat Hormuz, semakin besar tekanan ekonomi yang mereka bebankan pada dunia."
Selama konflik yang hampir memasuki minggu keenam ini, Trump terus bersikap fluktuatif antara mengancam eskalasi militer dan mengeklaim bahwa kesepakatan sudah dekat. Ia bahkan telah mengutus Wakil Presiden JD Vance untuk menyampaikan ultimatum kepada Iran agar segera bersepakat atau menghadapi serangan terhadap infrastruktur utama.
Di pasar modal, para investor mulai memborong kontrak opsi yang memungkinkan mereka meraup untung dari hasil apa pun—baik itu resolusi cepat yang menyeret harga minyak turun tajam, maupun lonjakan harga lebih lanjut. Bahkan, muncul spekulasi ekstrem berupa taruhan bahwa patokan harga minyak global bisa menembus angka US$450 per barel.
Harga:
- Kontrak WTI pengiriman Mei turun 1,1% menjadi US$99,03 per barel pada pukul 06.55 waktu Singapura
- Minyak Brent untuk pengiriman Juni turun 2,7% menjadi US$101,16 per barel pada Rabu
(bbn)



























