Logo Bloomberg Technoz

“Bagi organisasi, kuncinya adalah memastikan bahwa percepatan transformasi digital diimbangi dengan penguatan ketahanan siber. Seiring meningkatnya adopsi cloud, AI, dan sistem yang semakin saling terhubung, organisasi perlu mengantisipasi risiko dari eksploitasi kerentanan dan penyalahgunaan kredensial, yang kerap menjadi titik masuk utama dalam banyak insiden siber,” tambah Catherine.

Menurutnya, risiko kejahatan siber di industri manufaktur perlu perhatian khusus. IBM mencatat, industri manufaktur masih menjadi sektor yang paling sering jadi target secara global. Tingginya ketergantungan pada kelangsungan operasional, sistem yang saling terhubung, serta nilai tinggi dari data dan kekayaan intelektual membuat sektor ini sangat rentan terhadap gangguan.

Sehingga, keamanan siber bukan hanya menjadi isu teknologi bagi pelaku industry manufaktur, melainkan menjadi isu keberlangsungan bisnis mereka itu sendiri. Menurut Catherine Lian, tantangan saat ini bukan hanya soal kesiapan menghadapi AI, tetapi juga soal fondasi keamanan.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan pelaku industri manufaktur dalam menghadapi serangan siber ini.

  • Memperkuat kontrol identitas dan akses menjadi langkah mendasar. Misalnya lewat autentikasi yang lebih kuat dan pembatasan akses untuk akun internal maupun pihak ketiga.
  • Memperkuat pengelolaan kerentanan secara disiplin, termasuk melalui pemantauan sistem, pengamanan aplikasi yang terekspos, dan pengujian kerentanan secara berkelanjutan.
  • Melindungi data kritikal dan sistem operasional secara bersamaan, karena ancaman tidak hanya berpotensi mengganggu layanan, tetapi juga mencuri data sensitif.
  • Menyiapkan rencana respons dan pemulihan agar operasional dapat segera pulih bila serangan terjadi.
  • Menenerapan agentic AI dalam pusat operasi keamanan, untuk mempercepat proses pencarian ancaman, deteksi, dan remediasi seiring meningkatnya penggunaan AI oleh pelaku serangan.

“Semakin terdigitalisasi, terhubung, serta berbasis AI sebuah operasi manufaktur, semakin besar pula konsekuensi jika perlindungan sibernya tertinggal,” pungkas Catherine.

(lav)

No more pages