Pasar mulai khawatir terjadinya perlambatan ekonomi. Dengan begitu, obligasi sebagai safe haven terutama bagi negara-negara maju, menjadi pelarian para investor untuk memarkirkan dananya.
"Tren bull-steepeing kemungkinan akan berlanjut seiring investor mulai beralih pada kekhawatiran perlambatan pertumbuhan, setelah sebagian besar bulan Maret digunakan untuk memperhitungkan lonjakan ekspektasi inflasi akibat perang," kata Garfield Reynold, Market Live strategist, seperti dikutip Bloomberg News.
Akan tetapi, surat utang Indonesia belum sepenuhnya kecipratan arus tersebut. Bukannya ikut menikmati penurunan yield seperti negara maju, kenaikan yield tenor pendek masih mencerminkan bahwa investor meminta premi risiko lebih tinggi untuk menahan aset domestik lantaran terbebani dua hal.
Pertama, tekanan eksternal yang diakibatkan oleh melonjaknya harga minyak mentah membuat risiko inflasi impor semakin besar dan dapat memperlebar defisit.
Kedua, di tengah ketidakpastian seperti sekarang, persepsi risiko terhadap pasar negara berkembang makin meningkat. Kala investor global mengantisipasi adanya perlambatan ekonomi, mereka cenderung memilih memarkirkan uangnya pada aset yang lebih aman dan likuid, seperti US Treasury.
Ketiga, struktur stabilitas domestik mulai mengalami erosi, meski pertumbuhan masih bisa dikatakan relatif solid. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 diperkirakan mencapai 5,54% yang didukung oleh PMI 53,8, impor 18,2% serta belanja fiskal tumbuh 26%, seperti catatan yang dirilis oleh Samuel Sekuritas.
Tapi, di saat yang sama, inflasi makin meningkat dari 3,55% menjadi 4,76%, cadangan devisa juga menurun ke US$151,9 miliar, serta surplus perdagangan makin menyempit ke US$0,95 miliar. Data tersebut menggambarkan bahwa stabilitas makro tidak sekuat headline pertumbuhan.
Dari sisi fiskal, defisit yang sudah berada di kisaran 2,9% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan adanya tambahan risiko dari lonjakan harga minyak dapat membebani APBN hingga Rp76 triliun hingga Rp122 triliun, membuat ruang ekspansi fiskal jadi makin terbatas.
Dari data tersebut, baik otoritas moneter maupun otoritas fiskal saat ini sepertinya berada dalam kondisi yang tidak ideal dan leluasa untuk merespons guncangan eksternal yang terjadi.
Situasi ini juga bertambah beban dengan adanya sentimen dari perubahan outlook yang dilabel lembaga pemeringkat yang membuat aset domestik jadi lebih sensitif terhadap persepsi risiko daripada sebelumnya.
Artinya, saat ini premi risiko aset berdenominasi rupiah juga dipengaruhi oleh kepercayaan pelaku pasar di tengah dinamika respons kebijakan domestik yang ada.
Perubahan Outlook
Sebagai catatan, Moody's menurunkan outlook pasar surat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Alasan Moody’s cukup jelas, “menurunnya prediktabilitas dalam perumusan kebijakan, yang berisiko melemahkan efektivitas kebijakan serta mengindikasikan pelemahan tata kelola,” kata Moody's dalam catatannya.
Meski Moody's tetap mempertahankan peringkat Baa2 yang masih tergolong layak investasi, tapi perubahan outlook ini membawa dampak terhadap aset keuangan Tanah Air, karena menyangkut kredibilitas dan kepercayaan publik, dan pada akhirnya akan memengaruhi arus modal yang keluar dan masuk ke pasar keuangan domestik.
Sejalan dengan Moody's, Fitch Ratings juga merevisi outlook peringkat kredit Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil meski masih mempertahankan peringkat utang jangka panjang dalam mata uang asing (Long-Term Foreign-Currency Issuer Default Rating/IDR) di ‘BBB’.
Fitch menilai pelemahan tata kelola dan risiko fiskal yang cenderung meningkat termasuk defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang mencapai 2,9% terhadap PDB jadi faktor utama pemangkasan outlook kredit tersebut.
Fitch juga menggarisbawahi kekuatan tersebut tetap dibatasi oleh sejumlah kelemahan struktural. Di antaranya, rasio penerimaan negara yang relatif rendah, biaya layanan utang yang tinggi, serta indikator tata kelola yang tertinggal dibanding negara lain dengan peringkat BBB menjadi faktor yang membatasi fleksibilitas fiskal Indonesia.
(dsp/aji)































