Penurunan penawaran ini terjadi lantaran kondisi pasar yang masih dibayangi ketidakpastian global. Kala itu, perang antara AS-Israel dengan Iran baru saja pecah. Artinya, saat itu sebenarnya investor mulai sensitif terhadap risiko global meski tekanan harga minyak belum menyentuh US$100 per barel seperti sekarang.
Sehingga bisa dikatakan, lelang kali ini kondisinya relatif lebih berat dari lelang sebelumnya. Harga minyak lebih tinggi, dan tekanan terhadap rupiah masih berlanjut. Dengan begitu, potensi penurunan minta investor agaknya masih tetap terbuka.
Jika tekanan rupiah masih berlanjut dan lonjakan harga minyak terus memicu alarm risk-off lebih nyaring, penawaran yang masuk mungkin bisa berada di bawah Rp45 triliun atau lebih rendah dari penawaran yang masuk pada lelang SUN sebelumnya.
Akan tetapi, dengan target maksimal hingga Rp54 triliun dan kebutuhan pembiayaan yang masih besar, pemerintah berpotensi tetap agresif menyerap penawaran yang masuk jika permintaannya relatif memadai, meski harus dengan konsekuensi yield yang lebih tinggi.
Dari sisi mekanisme, lelang SUN dilakukan melalui sistem terbuka yang difasilitas Bank Indonesia dengan metode harga beragam (multiple price).
Akses ke lelang ini tetap melalui jaringan dealer utama yang sebagian terdiri dari bank besar domestik dan global. Seperti Citibank N.A., Deutsche Bank AG, PT Bank HSBC Indonesia, PT Bank Central Asia Tbk., PT Bank Danamon Indonesia Tbk., PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk., PT Bank OCBC NISP Tbk., PT Bank Panin Tbk., PT Bank Rakyat Indonesia Tbk., PT Bank Permata Tbk., PT Bank CIMB Niaga Tbk., PT Bank NAZ Indonesia, Standard Chartered Bank, JP Morgan Chase Bank N.A., serta PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.
Dari perusahaan sekuritas terdiri dari PT BRI Danareksa Sekuritas, PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk., dan PT Mandiri Sekuritas.
(dsp/aji)


























