Sebelumnya pada hari Minggu (29/3), Duta Besar AS Mike Huckabee dan diplomat tinggi Uni Eropa, Kaja Kallas, melayangkan kritik tajam terhadap otoritas Israel. Kallas menyebut tindakan pembatasan tersebut sebagai "pelanggaran kebebasan beragama." Di sisi lain, kantor Netanyahu menegaskan bahwa "sama sekali tidak ada niat buruk" di balik tindakan tersebut.
Menurut keterangan kepolisian, seluruh situs suci di Kota Tua Yerusalem telah ditutup bagi penganut semua agama sejak dimulainya perang dengan Iran. Penutupan ini mengikuti instruksi Komando Front Dalam Negeri, terutama untuk lokasi-lokasi yang tidak memiliki ruang pelindung standar (bunker). Kebijakan ini diterapkan akibat serangan rudal Iran yang sejauh ini telah menewaskan sedikitnya 19 orang di Israel.
"Akibatnya, dan untuk pertama kalinya dalam berabad-abad, para pemimpin Gereja dilarang merayakan Misa Minggu Palma di Gereja Makam Kudus," ungkap pihak Patriarkat dalam pernyataannya. "Insiden ini adalah preseden buruk dan mengabaikan perasaan miliaran orang di seluruh dunia yang, pada pekan ini, mengalihkan pandangan mereka ke Yerusalem."
Dubes AS Mike Huckabee menyebut tindakan kepolisian sebagai "pelampauan wewenang yang disayangkan dan sudah memberikan dampak besar di seluruh dunia." Ia menambahkan bahwa tindakan tersebut "sulit untuk dipahami maupun dibenarkan."
Senada dengan Huckabee, Kaja Kallas dari Uni Eropa menegaskan pentingnya menjaga hak beribadah. "Kebebasan beribadah di Yerusalem harus dijamin sepenuhnya bagi semua agama tanpa pengecualian. Karakter multi-religius Yerusalem harus terus dilindungi," pungkasnya.
(bbn)



























