Saat ini, Iran telah memutus hampir seluruh jalur lalu lintas di Selat Hormuz, jalur air yang menghubungkan Teluk Persia ke pasar dunia. Teheran mulai meresmikan kendali mereka atas jalur tersebut dengan melarang sebagian besar kapal melintas, kecuali segelintir kapal dari negara tertentu seperti Pakistan, Thailand, dan Malaysia.
Laporan Washington Post menyebutkan bahwa Pentagon tengah mempersiapkan operasi darat selama berminggu-minggu di Iran. Meski pejabat senior pemerintahan Trump, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio, mencoba meredam isu tersebut, kedatangan sekitar 3.500 pelaut dan Marinir AS tetap membuat pasar khawatir akan terjadinya eskalasi militer.
Keterlibatan Houthi menghadirkan risiko baru bagi pasar minyak mentah. Kelompok ini sebelumnya efektif menutup Laut Merah bagi sebagian besar pelayar Barat sejak perang di Gaza tahun 2023. Ancaman terhadap kargo yang dimuat via Yanbu akan semakin menekan pasokan global, padahal selama ini Riyadh mengandalkan rute Laut Merah untuk meredam dampak guncangan pasokan.
Perbankan internasional pun mulai menghitung skenario terburuk. Macquarie Group Ltd memperingatkan bahwa harga minyak bisa menyentuh US$200 per barel jika konflik berlanjut hingga Juni dan Selat Hormuz tetap ditutup—sebuah skenario yang memiliki peluang terjadi sebesar 40%.
Struktur spread Brent menunjukkan kekhawatiran tajam terhadap pasokan jangka pendek, dengan pola backwardation yang bullish, di mana kontrak bulan terdekat diperdagangkan dengan premi besar dibanding kontrak berikutnya. Selisih tersebut mencapai US$7,58 per barel pada Senin, dibandingkan hampir tidak ada perbedaan sebelum perang pecah.
Konflik juga berdampak pada industri lain. Selama akhir pekan, Emirates Global Aluminium mengalami “kerusakan signifikan” akibat serangan rudal dan drone Iran pada Sabtu. Selain itu, fasilitas Aluminium Bahrain juga dilaporkan terkena serangan.
Harga:
- Minyak Brent untuk pengiriman Mei naik 1,4% menjadi US$114,13 per barel pada pukul 06.03 waktu Singapura.
- WTI untuk pengiriman Mei naik 2,4% menjadi US$102,07 per barel.
(bbn)





























