Logo Bloomberg Technoz

Selain itu, Laode mengungkapkan Indonesia turut mendiversifikasi impor minyak mentah dari negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Darussalam.

“Kita ingin ke jalur-jalur yang sudah pasti saja. Jangan menyisakan pekerjaan rumah yang malah nanti memperlambat kita,” kata Laode kepada Bloomberg Technoz, dikutip Kamis (26/3/2026).

“Opsi impor; negara tetangga penghasil seperti Malaysia dan Brunei. Lalu negara-negara non-jalur Selat Hormuz seperti Afrika dan Amerika,” tegas Laode.

Laode mengungkapkan strategi utama Indonesia menghadapi gejolak di pasar minyak global dilakukan melalui menjaga kecepatan impor dan mengejar sumber-sumber impor baru.

“Jadi speed kita jangan sampai turun, atau jangan sampai kita merasa aman,” ujar Laode.

Di sisi lain, Laode menegaskan Ditjen Migas dan PT Pertamina (Persero) memasang sikap siaga untuk menyikapi gejolak yang terjadi di pasar migas dunia.

“Sesuai arahan Pak Menteri, kami di Migas dan Pertamina mengubah posisi pandang menjadi 'siaga' agar penyiapan sedini mungkin dapat kita kejar,” ungkap Laode.

Adapun, berdasarkan data Dewan Energi Nasional (DEN) dan BPH Migas, komposisi impor minyak mentah Indonesia pada 2025 berasal dari berbagai negara mitra sehingga sumbernya terdiversifikasi.

Antara lain Nigeria sebesar 34,07 juta barel atau sekitar 25%, Angola sebesar 28,5 juta barel atau 21%, Arab Saudi sebesar 25,36 juta barel atau sekitar 19%, Brasil 9%, Australia 8%, serta sejumlah negara lainnya seperti Gabon, AS, dan Malaysia.  

Untuk impor BBM, berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pada 2025 Indonesia tercatat mengimpor BBM paling banyak dari Singapura dan Malaysia.

Terdapat negara lainnya yang turut menjadi sumber impor BBM RI, antara lain China, Korea Selatan, Oman, Uni Emirat Arab (UEA), India, Mesir, Jepang, dan Taiwan.

(ain)

No more pages