Bitcoin sejauh ini relatif lebih tahan terhadap konflik Iran bulan ini dibandingkan aset tradisional. Saat harga minyak bergerak lebih tinggi pada Senin, emas justru melemah lebih dari 3% dan hampir menghapus seluruh kenaikan tahun ini. Logam tersebut tercatat turun sekitar 17% sepanjang bulan ini.
Pasar saham Asia dibuka lebih rendah, sementara imbal hasil obligasi global meningkat. Indeks di Jepang dan Korea Selatan melemah, dan MSCI All Country World Index, indikator luas untuk saham global memperpanjang penurunan sepanjang tahun ini.
Di sisi lain, Bitcoin masih mencatatkan kenaikan sekitar 4% sepanjang Maret. Pergerakan ini relatif stabil untuk aset yang masih diperdagangkan sekitar 45% di bawah rekor tertinggi US$126.251 pada Oktober, saat pasar kripto mengalami aksi jual tajam yang menekan harga hingga kini.
Di kisaran US$68.000, Bitcoin bergerak di sekitar rata-rata pergerakan eksponensial 200 pekan, garis tren yang secara psikologis penting bagi aset digital ini.
“Secara historis, area seperti ini menjadi titik yang menarik untuk menambah posisi bagi investor yang masih optimistis,” kata Pratik Kala, kepala riset di Apollo Crypto.
Meski demikian, aktivitas perdagangan kripto masih cenderung lesu. Indeks sentimen pasar dari Coinglass berada di level “extreme fear”, posisi yang telah berlangsung selama 25 dari 30 hari terakhir. Arus dana bersih untuk ETF Bitcoin spot yang tercatat di AS juga berubah negatif pada pertengahan pekan lalu, dengan dana keluar sebesar US$305,8 juta dalam tiga hari, meski secara mingguan masih mencatatkan arus masuk bersih US$95 juta.
“Narasi Bitcoin sebagai aset safe haven kembali diuji dalam kondisi seperti ini, karena pergerakan harganya belakangan justru sejalan dengan aset berisiko, bukan berlawanan,” ujar Haider Rafique, global managing partner di bursa kripto OKX.
(bbn)




























