“Tekanan di Selat Hormuz membuat Presiden Trump tidak bisa begitu saja mendeklarasikan kemenangan dan pergi, karena hal itu tidak menyelesaikan masalah mendasar,” ujar Will Todman, peneliti senior Program Timur Tengah di Center for Strategic and International Studies. “Banyak pilihan yang dimiliki Trump untuk menekan Iran justru akan membuat harga energi semakin melambung, termasuk upaya merebut Pulau Kharg atau menyerang infrastruktur produksi energi Iran.”
Otoritas lokal melaporkan bahwa Kota Industri Ras Laffan di Qatar—kompleks yang menaungi kilang ekspor LNG terbesar di dunia—mengalami "kerusakan luas" akibat serangan rudal. Situs ini sebelumnya telah masuk dalam daftar target Iran sebagai balasan atas serangan terhadap ladang South Pars yang sangat vital bagi pasokan domestik Iran, Irak, dan Turki.
Selain itu, aset minyak dan petrokimia terkait di Asaluyeh juga turut dihantam. Di tempat lain, Abu Dhabi melaporkan penghentian operasi di fasilitas gas Habshan setelah pencegatan rudal menyebabkan jatuhnya serpihan berbahaya. Media semi-pemerintah Iran, Fars, juga melaporkan adanya serangan rudal berat terhadap aset LNG di Bahrain yang dianggap sebagai kepentingan AS, meskipun tidak merinci sumber informasinya.
Secara terpisah, Trump secara sementara menangguhkan mandat pengiriman berusia seabad—Jones Act—guna menekan biaya transportasi minyak, gas, dan komoditas lainnya di wilayah AS. Langkah ini merupakan upaya terbaru Trump untuk memerangi lonjakan harga energi yang dipicu oleh peperangannya melawan Iran.
Guna menjinakkan harga bahan bakar yang terus meroket, Wakil Presiden JD Vance beserta pejabat teras administrasi Trump dijadwalkan bertemu dengan para eksekutif minyak pada hari Kamis ini.
Harga:
- WTI untuk pengiriman Mei naik 2,8% menjadi US$98,17 per barel pada pukul 06.29 waktu Singapura.
- Kontrak April yang kurang aktif, dan akan berakhir pada Jumat, naik 2,9% menjadi US$99,09. - Brent untuk pengiriman Mei naik 3,8% dan ditutup di level US$107,38 per barel pada Rabu.
(bbn)



























