Logo Bloomberg Technoz

BT Insights: Ketegangan Timur Tengah Ubah Peta Investasi Asia

Merinda Faradianti
17 June 2026 16:50

Dampak perang di Lebanon antara Israel dengan Hizbullah. dok: Bloomberg
Dampak perang di Lebanon antara Israel dengan Hizbullah. dok: Bloomberg

Bloomberg Technoz, Jakarta - Konflik geopolitik yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memberikan dampak guncangan optimisme pelaku usaha di Asia Tenggara. Hanya dalam hitungan minggu, tingkat keyakinan para pemimpin bisnis terhadap prospek ekonomi 2026 turun signifikan dari 92% menjadi 76%.

Temuan tersebut terungkap dalam laporan perdana BT Insights. Survei tersebut melibatkan lebih dari 500 pemimpin perusahaan tingkat C-suite dan eksekutif senior di tujuh pasar Asia.

Editor The Business Times, Chen Huifen mengatakan, optimisme dunia usaha Asia Tenggara yang menguat pada awal tahun 2026, langsung terpukul oleh eskalasi konflik yang terjadi di Timur Tengah.

“Enam bulan lalu, jika Anda bertanya kepada para pemimpin bisnis apakah mereka optimistis terhadap 2026, 92% akan menjawab ya. Kemudian datang serangan AS dan Israel terhadap Iran, dan hampir sebulan kemudian tingkat optimisme turun menjadi 76%,” kata Chen Huifen di Jakarta, Rabu (17/6/2026)

Menurut Chen, perang Iran telah mengubah ekspektasi pelaku usaha terhadap berbagai aspek bisnis. Pasalnya, ketidakpastian politik menjadi kekhawatiran utama pelaku bisnis di kawasan.

Chen menegaskan, penurunan optimisme tersebut tidak berarti para pemimpin bisnis menjadi pesimistis. Tetapi, justru menunjukkan sikap yang lebih hati-hati dalam mengambil keputusan investasi dan ekspansi.

“Ini bukan pesimisme, ini adalah kehati-hatian. Para pemimpin bisnis yang berhati-hati biasanya adalah mereka yang paling cepat beradaptasi terhadap perubahan,” ujarnya.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa meningkatnya risiko geopolitik membuat perusahaan semakin fokus pada faktor eksternal dalam menyusun strategi bisnis. Perusahaan kini lebih banyak mempertimbangkan kondisi politik global dibandingkan isu internal seperti pengembangan talenta atau implementasi teknologi.

Dalam laporan yang dirilisnya, Chen mengungkap, di tengah meningkatnya ketidakpastian yang terjadi, Asia Tenggara justru menjadi tujuan utama investasi baru. Lebih dari 80% responden menyatakan belanja modal baru mereka akan dialokasikan di kawasan Asia Tenggara, terutama di pasar domestik masing-masing.

Chen mengatakan, perusahaan-perusahaan di kawasan mulai mengurangi fokus investasi ke Amerika Serikat dan Eropa. Sebaliknya, mereka melihat Asia sebagai pusat pertumbuhan yang menawarkan peluang lebih besar dalam jangka panjang.

Indonesia menjadi salah satu negara dengan komitmen investasi regional paling tinggi. Bersama Vietnam, Indonesia juga muncul sebagai tujuan utama ekspansi manufaktur dan pembangunan fasilitas produksi baru dalam dua tahun mendatang.

Survei juga menemukan mayoritas perusahaan Asia Tenggara tidak ingin terjebak dalam rivalitas antara Amerika Serikat dan China. Mereka memilih pendekatan yang lebih pragmatis dengan tetap menjaga hubungan bisnis dengan kedua kekuatan ekonomi tersebut.

“Kami melihat perusahaan-perusahaan di kawasan tidak memilih antara AS atau China. Mereka mencoba mempertahankan keseimbangan dan memanfaatkan peluang dari keduanya,” sebut Chen.

Meskipun peluang ekonomi Asia dinilai sangat besar, laporan BT Insights mencatat sejumlah hambatan yang masih mengganggu dunia usaha, termasuk fragmentasi regulasi, kualitas infrastruktur yang belum merata, serta meningkatnya persaingan bisnis.

“Pesannya jelas. Asia menawarkan peluang ekonomi yang sangat besar, tetapi kawasan ini juga tidak mudah untuk dijalankan sebagai tempat berbisnis. Tantangan operasional masih menjadi perhatian utama para pemimpin perusahaan,” pungkasnya.