"Sebenarnya kalau dibilang mahal, ya kalau memang mahalnya seharusnya lebih dari TBA. Tapi kalau misalnya masih dalam range TBA, ya mungkin itu yang harus kita memang berikan edukasi ke masyarakat, ya sebenarnya itu juga belum ada yang dilanggar oleh rekan-rekan airline," tegasnya.
Dia memastikan akan terus melakukan pengawasan untuk harga-harga tiket yang dijual oleh pihak maskapai. Walakin, ia mengklaim lewat hasil monitoring di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, bahwa harga tiket yang beredar masih sesuai dengan ketentuan, yakni dihitung berdasarkan TBA ditambah komponen lain seperti pajak, passenger service charge (PSC), iuran wajib, dan fuel surcharge.
Di sisi lain, ia justru menyoroti persepsi tiket mahal yang kerap kali muncul di masyarakat, menurut Agustinus hal tersebut dapat terjadi lantaran pemilihan rute tidak langsung oleh penumpang. Dalam beberapa kasus, tiket dengan rute transit atau memutar dinilai lebih mahal karena tidak termasuk dalam skema perhitungan TBA untuk rute langsung.
"Rutenya seharusnya misalnya Cengkareng-Padang, tapi ternyata tidak langsung ke Cengkareng-Padang. Ternyata juga kita buka, dia itu melalui Yogyakarta. Nah itu yang harga yang muncul ya akan melebihi dari tarif TBA, karena kami juga memberlakukan TBA ya kami lihat rutenya ke mana," jelasnya.
Meski demikian, dirinya pun juga tak menampik terjadi dilema bagi Kemenhub untuk di satu sisi antara menjaga keterjangkauan harga tiket bagi masyarakat, namun di sisi lain juga harus tetap memastikan keberlangsungan bisnis maskapai di tengah tekanan biaya operasional.
"Kami ingin menjaga keberlangsungan operasional dari rekan-rekan airline. Dan tentunya ini juga kami juga terus mendiskusikan dengan pimpinan kemungkinan-kemungkinannya kita akan menyesuaikan untuk biaya operasional dari rekan-rekan airline semua," pungkasnya.
(ain)





























