“Karena takut disanksi oleh Amerika ya akhirnya kita menyia–nyiakan, mengabaikan sumber minyak murah itu,” tegasnya.
Karakteristik Crude
Dia meyakini karakteristik minyak mentah Rusia dapat diolah di kilang minyak domestik, sebab kilang domestik kini memiliki kemampuan untuk mengolah minyak mentah, baik tipe ringan maupun berat.
“Cocok, kan rata-rata saya kira kompleksitas kilang kita itu sudah bisa mengolah minyak, baik itu yang light maupun heavy crude, itu semuanya sudah ada. Di semua kilang kita itu ada berbagai fasilitas, untuk misalnya mengolah yang light di mana, yang heavy di mana, tinggal modenya pengolahannya saja. Mode operasinya bisa di adjust,” terang Kholid.
Sebelumnya, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung membuka peluang mengimpor minyak mentah dari Rusia jika terdapat relaksasi atas sanksi yang dikenakan terhadap negara tersebut.
Dia mengungkap sumber impor minyak mentah yang didatangkan Indonesia merupakan keputusan bisnis yang dilakukan oleh PT Pertamina (Persero).
Yuliot menyatakan jika mendatangkan minyak mentah dari Rusia dapat lebih menguntungan dan terdapat relaksasi atas sanksi yang diberikan, maka Indonesia bisa saja mengimpor minyak Rusia.
"Itu kan keputusan bisnis itu nanti sama Pertamina. Jadi, mana yang lebih membutuhkan sepanjang ada relaksasi ya tentu kita akan memanfaatkan itu prosesnya," kata Yuliot kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (13/3/2026).
Akan tetapi, dia menegaskan hingga saat ini Kementerian ESDM belum mempertimbangkan opsi tersebut dan masih belum menyiapkan kajiannya. "Belum ada," ungkapnya.
Di sisi lain, minyak Rusia tak hanya diganjar sanksi oleh AS. Uni Eropa juga menjatuhkan pembatasan terhadap sektor energi Rusia setelah invasi ke Ukraina pada 2022, termasuk embargo impor minyak.
AS telah mengeluarkan izin kedua bagi pembeli untuk mengambil kargo minyak Rusia yang sudah berada di laut. Langkah ini dimaksudkan untuk meredakan tekanan yang semakin meningkat pada harga seiring berlanjutnya perang di Timur Tengah.
Menteri Keuangan Scott Bessent, dalam unggahan di media sosial, mengatakan langkah ini dirancang sebagai "langkah jangka pendek dan sangat terbatas" yang "hanya berlaku untuk minyak yang sudah dalam perjalanan dan tidak akan memberikan manfaat finansial yang signifikan bagi pemerintah Rusia."
Langkah, yang hanya berlaku untuk minyak yang dimuat sebelum 12 Maret, ini memperluas pembebasan selama sebulan yang diberikan pada India pekan lalu.
Hal ini semula berlaku untuk minyak mentah yang dimuat di kapal sebelum 5 Maret. Ketentuan yang lebih luas ini tidak lagi terbatas pada India, tetapi tidak mengizinkan Iran untuk membeli minyak tersebut.
Pemerintah AS telah berusaha mengambil langkah-langkah untuk menstabilkan harga minyak mentah dan bahan bakar yang melonjak.
Di antara pilihan lain, mereka mempertimbangkan rencana untuk mengabaikan undang-undang maritim berusia seabad yang mewajibkan kapal-kapal AS digunakan untuk mengangkut barang antarpelabuhan AS.
Adapun, berdasarkan data DEN dan BPH Migas, komposisi impor minyak mentah Indonesia pada 2025 berasal dari berbagai negara mitra sehingga sumbernya terdiversifikasi.
Antara lain Nigeria sebesar 34,07 juta barel atau sekitar 25%, Angola sebesar 28,5 juta barel atau 21%, Arab Saudi sebesar 25,36 juta barel atau sekitar 19%, Brasil 9%, Australia 8%, serta sejumlah negara lainnya seperti Gabon, Amerika Serikat (AS), dan Malaysia.
Untuk impor BBM, berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pada 2025 Indonesia tercatat mengimpor BBM paling banyak dari Singapura dan Malaysia.
Terdapat negara lainnya yang turut menjadi sumber impor BBM RI, antara lain China, Korea Selatan, Oman, Uni Emirat Arab (UEA), India, Mesir, Jepang, dan Taiwan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat volume impor minyak mentah kode HS 27090010 sepanjang 2025 mencapai 15,99 juta ton, naik dari realisasi sepanjang 2024 sebanyak 15,27 juta ton.
Pada 2023, impor minyak mentah tercatat cukup tinggi mencapai 17,03 juta ton. Sementara itu, pada 2022, impor minyak mentah yang dilakukan Indonesia sekitar 14,12 juta ton. Lalu, pada 2021 impor minyak mentah tercatat cukup melandai sejumlah 12,10 juta ton.
(azr/wdh)






























