Di kawasan, baht Thailand tergerus paling dalam sebesar 4,22%. Disusul won Korea Selatan 3.49%, peso Fipilina 3,37%, dolar Taiwan 2,18%, yen Jepang 2,09%, rupee India 1,57%, rupiah 1,29%, dolar Singapura 1,06%, ringgit Malaysia 0,85%, dan yuan offshore 0,31%.
Bagi Indonesia meski pelemahannya relatif terbatas, tetapi risiko ini jadi cukup relevan lantaran kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan beban subsidi energi dalam APBN. Dengan asumsi harga minyak yang lebih tinggi dari target pemerintah, ruang fiskal dapat tertekan dan memunculkan kekhawatiran baru di kalangan investor terhadap keberlanjutan disiplin anggaran.
Penguatan terbatas rupiah pada perdagangan pagi ini sepertinya ditopang oleh faktor tekninal dan ekspektasi pasar terkait kebijakan suku bunga yang akan diumumkan oleh Bank Indonesia hari ini. Setelah mengalami tekanan yang cukup intens dalam beberapa pekan terakhir dan sempat menyentuh level Rp17.000/US$ di pasar offshore, pasar cenderung mengambil posisi lebih defensif menjelang pengumuman suku bunga BI.
Konsensus pasar memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan di 4,75% untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global. Ekspektasi bahwa BI akan tetap menjaga kebijakan moneter yang ketat, sepertinya relatif memberikan dukungan terhadap rupiah, setidaknya dalam jangka pendek.
Namun, penguatan tersebut masih bersifat terbatas dan belum sepenuhnya mencerminkan perubahan tren. Selama harga minyak tetap tinggi dan ketidakpastian geopolitik masih membayangi, tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut.
(dsp/aji)






























